Kajian Pejalan Keheningan Mahadaya Bali : "Kapan Pendemi Covid-19 Berakhir ? "

Iklan Semua Halaman

.

Kajian Pejalan Keheningan Mahadaya Bali : "Kapan Pendemi Covid-19 Berakhir ? "

Media DPR
Selasa, 30 Juni 2020

DENPASAR BALI | MEDIA-DPR.COM, Dalam kajian yang dilaksanakan di Sanur Bali, Senin (29/6) ada peserta yang bertanya, "Kapan pandemi COVID ini akan berakhir? Saya sudah bertanya kepada banyak supranaturalis dan spiritualis, belum ada yang bisa menjawab."  Ini jelas pertanyaan yang menantang dan saya suka tantangan.  



Maka saya jawab pertanyaan ini dengan cara yang belum pernah saya lakukan.  Saya buka-bukaan 100%.  Tapi saya bilang off the record, apa yang saya sampaikan tidak boleh dibuka keluar, cukup untuk peserta kajian saja.

Yang saya tulis di sini, adalah jawaban yang sudah sangat dihaluskan.

Jadi, ini jawaban saya: Issue ini bisa BERAKHIR HARI INI JUGA, dengan cara PRESIDEN RI MENCABUT STATUS DARURAT KESEHATAN dan MEMBUBARKAN GUGUS TUGAS COVID 19.


Ini benar-benar hanya soal keputusan politik, soal dinamika politik, tidak ada urusannya dengan soal pandemi dan epidemiologi.

Mari kita runut kronologi sejak awal bagaimana kasus ini berjalan dan bagaimana keadaan saat ini.

1. Pada awalnya Pemerintah RI sangat santai, Menkes Terawan menyatakan Corona bukan virus bahaya, COVID 19 ini termasuk penyakit yang bisa sembuh sendiri.

2. Angin berubah saat Presiden RI ngobrol via telepon dengan Dirjen WHO - tampaknya ada nego yang rumit di situ.  Maka mendadak muncul dua pasien yang dinyatakan positif COVID 19 dan ditetapkan status Darurat Kesehatan di Indonesia.  Lalu Menkes Terawan mendadak seperti hilang dari peredaran.  Pendapat warasnya tak dipakai.

3.  Sejak saat itu, kebijakan Pemerintah RI soal COVID 19 ini menjadi sangat disetir WHO, kita selalu ikuti WHO meski WHO terlihat jelas galaunya, kebijakannya selalu berubah-ubah.  Selalu PHP dalam soal vaksin dan obat.

Lalu ujug-ujug jadi banyak orang Indonesia yang positif Covid 19, tanpa kita tahu bagaimana mereka bisa terkena.  Faktanya 2 pasien pertama yang jelas sosoknya telah sembuh.

Lalu WNI dari Wuhan yang di karantina di Pulau Galang dinyatakan sehat juga.  Dan yang pertama kali punya banyak kasus positif Covid adalah DKI Jakarta, bukannya Bali yang banyak kedatangan turis China sepanjang Januari - Maret 2020.

Dari mana virus ini datang? Kenapa di Jakarta? Siapa yang kena dan siapa yang menularkan.  Ada yang tahu dan ada yang mendapat info dari Pemerintah? Saya sih jelas tidak

4. Seiring dengan Pemerintah mulai keluarkan data kasus positif Covid 19 - yang publik sebenarnya tak pernah tahu validitasnya,  mulai banyak nujuman seram dari beberapa dokter dan epidemiolog.

Covid 19 dinyatakan berbahaya, bisa membunuh jutaan hingga puluhan juta orang Indonesia dan media memblow up opini ini. Mulai muncul desakan lockdown seperti di negara lain.

5. Jika lockdown jadi diterapkan, Indonesia bisa tumbang beneran.  Ceritanya akan beda, hari ini kita kecil kemungkinan masih bisa bercengkerama.

Kenapa tidak jadi lockdown padahal Pemerintah sudah siapa siap ambil kebijakan itu? Sssssttt

... Ini rahasia ya, di detik akhir pengambilan keputusan, kesadaran para pejabat yang ikut rapat terbatas dirubah oleh semesta.  Munculnya keputusan PSBB + Darurat Sipil.

Anda tahu, dalam case ini yang paling berperan adalah jiwa atau soulnya Bung Karno yang merasuk ke tubuh Jokowi dan membuatnya berubah rencana.  Kita selamat...

6. PSBB lalu berjalan, ekonomi lumayan rontok, banyak PHK, sektor informal tidak jalan.  Tapi ini jauh lebih ringan destruksinya ketimbang lockdown.

Dan kita lalu sama-sama tahu, ramalan seram para ahli ternyata tak terbukti.  Semua cuma omong kosong.  Meski rakyat banyak yang ndableg dan tidak patuh pada kebijakan social distancing dan lainnya, hingga saat ini, angka resmi yang meninggal ada di kisaran 2500 orang.

Bukan ratusan ribu, bukan jutaan, bukan puluhan juta.  Sekalipun kita masih bisa mengkritisi, beneran itu karena Covid? Gak ada uji forensik yang kredibel, semua hanya katanya.

Saat yang sama banyak protes di masyarakat kenapa orang meninggal karena sakit jantung, tipes, dinyatakan meninggal karena Covid 19.  Dan kita juga dapat data resmi, mereka yang dinyatakan sakit Covid 19 itu justru mayoritas tanpa gejala alias gak ada tanda sakit, mereka merasa sehat.

Dan sudah 25 ribuan orang lebih yang dinyatakan sembuh.  Jadi klaim virus ini sangat bahaya dan gak ada obatnya, hanya omong kosong.

Pemerintah sebenarnya melakukan kesalahan besar dengan hanya percaya pada epidemiolog tanpa melakukan riset serius tentang lethality rate dari penyakit ini (jika bener virusnya ada di sini), tak ada kajian pengaruh pada death rate nasional.

Gak ada perbandingan dengan kasus sakit lain, gak ada perbandingan dengan bulan-bulan sebelumnya.  Kebijakan benar benar dibuat serampangan hanya berdasarkan prediksi.

7. Indonesia lalu kembali diselamatkan, saat Presiden Ri dapat hidayah, dan meluncurkan kebijakan New Normal untuk mengatasi dampak PSBB yang membuat ekonomi macet dan bisa melumpuhkan kehidupan.

Ada teman, seorang penulis, yang bertanya, "Ini sebenarnya gimana sih, kok Pak Jokowi kayak orang linglung."  Begini, memang ada rahasia di balik ini semua.  Secara faktual memang Pak Jokowi tampil berubah - ubah.  Pidato tgl 18 Juni 2020 di istana sangat heroik, mendesak para menteri bertindak luar biasa untuk mendobrak kebekuan dalam gerak Pemerintah, betul-betul harus aksi untuk gelontorkan anggaran guna mengatasi tantangan krisis ekonomi.

Tapi tanggal 26 Juni 2020 di Surabaya malah sibuk bicara tentang bahaya Covid yang besar sekali , keharusan pake masker dan menerapkan protokol kesehatan ala WHO, dan hal semacam itu yang gak relevan dengan tantangan sebenarnya : ekonomi kita nyaris ambruk karena kebijakah Pemerintah yang berlebihan.

Ada apa di balik semua ini? Jawabannya, di dalam diri Pak Jokowi sendiri ada dinamika.  Kuasa gelap dan terang bertempur di badan itu.  Berita gembiranya, lihatlah foto Pak Jokowi tanggal 29 Juni 2020 - wajahnya terang, auranya cemerlang.

Itu berarti kuasa terang yang menang, melalui sosok yang kita kenal sebagai Pak Jokowi ada kekuatan semesta yangg bekerja untuk menyelamatkan bangsa ini.

8. Bulam ini saya berkeliling di banyak daerah, mulai dari Pekalongan, Semarang, Medan, Deli Serdang, Pematang Siantar, Prapat, Pekanbaru, Kuningan, Yogya, Solo, Wonogiri, Surabaya, berujung di Bali.

Saya lihat geliat ekonomi di mayoritas daerah sudah mulai pulih.  Jalanan rame, rumah makan mulai banyak pengunjung.  Hotel hotel mulai ada isinya.  Di Pematang Siantar malah orang tumpah ruah di pemandian.  Di Surabaya orang bebas ngopi ngopi dan ngumpul di cafe.

Ketakutan pada Corona semakin sirna.  Yang menyedihkan tinggal kawasan turis seperti di Kuta.  Dan, dengan rakyat yang mayoritas menafsirkan new normal sebagai normal aja, adakah lonjakan kematian akibat Covid? Ya nggak ada.  Data resmi ya begitu aja.  Apalagi kenyataan di lapangan, semua  baik-baik saja.

9. Kesimpulannya: mayoritas rakyat sudah siap untuk NORMAL PENUH dan memulihkan ekonomi.  Tinggal ditopang oleh kebijakan pemerintah: Cabut Darurat Kesehatan,

Bubarkan Gugus Tugas Covid 19.  Cabut kebijakan rapid test dan PCR test untuk perjalanan dengan moda transportasi publik. Apakah Pemerintah akan melakukan itu?

Pasti.. Ada kekuatan semesta yang tak bisa dilawan siapapun.  Inilah saatnya penghakiman bagi siapapun yang telah berbuat kejahatan kemanusiaan dengan mengatasnamakan issue pandemi.

Tiada lagi toleransi.  Tidak boleh lagi rakyat kecil dibuat susah, dibuat gak bisa cari makan, dengan alasan melindungi mereka.  Perubahan besar telah terjadi sebagai skenario penyelamatan bangsa ini.

Jaya Indonesia.  Merdeka!

Kuta Bali, 30 Juni 2020.
Setyo Hajar Dewantoro
close
Info Pasang Iklan