Aksi solidaritas Umat Hindu Demi Ajegnya Taksu Bali Metangi

Iklan Semua Halaman

.

Aksi solidaritas Umat Hindu Demi Ajegnya Taksu Bali Metangi

Media DPR
Jumat, 31 Juli 2020

SINGARAJA BALI | MEDIA-DPR.COM, Jika kita diam dianggap tidak peduli, Kitavbergerak karena akumulasi kebohongan dan pendustaan para pemegang kebijakan  di bidang adat adab budaya Hindu Dharma sehingga umat sdh tidak tahan untuk turun memberikan peringatan dan dukungan  di Cap mau DEMO. .....!

Nah di mana letak benarnya umat jika begini ? Jika Kita tak buta dan tuli tentu mendengar fakta-fakta yang sudah terjadi di masyarakat.

Seperti banyak ada konflik dalam  keluarga beda aliran yang satu setia dengan warisan agama, adat leluhunya di cerca dihina oleh salah satu keluarganya  yang sudah terpapar Hare Kresna (HK) karena beda Teologi Ketuhanan dan cara Ritual.. 

Pelajaran Agama Hindu di sekolah juga sudah terpapar Hare Kresna, Seni budaya Bali sudah di konversi dan di rubah pakemnya supaya sesuai pakem Hare Kresna. Kebiasaan ritual secara Adat Hindu di Bali sudah di tiadakan karena sudah mengikuti cara Hare Krena (HK)


"Saya ini orang bodoh tidak mengerti Wedha,  tidak menjabat apapun di bidang keagamaan,  Jujur ya..? Bagaimana nanti 5 - 10 tahun
kedepan, Jika HK sudah menjadi  mayoritas di Bali? ", kata Ketut Sumiarta Ketua Umum Amukti Palapa Nusantara (APN) saat di konfirmasi Jumat,(31/7) di Markas Komando DPP Amukti Palapa Nusantara (DPP-APN) .

Ketut Sumiarta kembali memaparkan Apa masih ada orang sembahyang ke Sanggah /Kemulan Tiga Sakti?
Apa masih ada orang mau sembahyang ke Kahyangan Tiga,  Dahkayangan dan Besakih?

Apamasih ada gamelan, Kidungan,  Tari- tarian dan sebagainya yang menunjang Ritual Hindu Dharma Bali? Apa masih ada iring-iringan Mekiyis/Melasti sebelum Hari Raya Nyepi.
Apa masih ada Bali dengan segala pernak perniknya yang dikagumi dunia sehingga Bali menjadi destinasi wisata nomor 1 di dunia  ?

Apakah Bali masing menjadi penyumbang devisa negara nomer 2 setelah minyak  ?
Apa masih ada  Hari  Raya Galungan, Kuningan, Pagerwesi, Tumpekan Purnama Tilem dan Ngisabe Desa.....?

 
"Bukankah Bung Karno telah memberikan Wejangan,"Kalau mau jadi Hindu,jadilah Hindu dengan Adab, Budaya Nusantara , Jangan ikut - ikutan jadi orang berbudaya India", imbuhnya.

"Mari Kita Turun dalam Aksi Damai Solidaritas Umat Hindu Dharma di Bali untuk mendorong PHDI dan Majelis Dewan Adat (MDA) supaya benar-benar tegas dan bijaksana bahwa  Hare Kresna (HK) tidak cocok berada dalam naungan PHDI",ujarnya.

"Biarkan jika mereka yakin Hare Kresna (HK) supaya berdiri sendiri,berhenti menjadi benalu di PHDI,Jika tidak ingin ada konflk yang berkelanjutan", tegasnya.

Ketut Sumiarta kembali menyatakan,Jangan ada yang memutar balikan fakta (Palaying Victim)Kami turun ke jalan bukan demo tapi Kami menunjukan jati diri Kami karena tak ingin Hindu Dharma yang sudah di wariskan ribuan tahun sirna tergantikan oleh faham baru, mohon di pahami Kami ingin ajeg Bali dan Nangun Sat Kerti Lokal Bali.

Salam santun buat para pemangku kebijakan dalam hal ini Parisadha Pusat,  Parisadha Bali,   Gubernur Bali, Bupati se-Bali, Majelis Dewan Adat dan Bendesa Adat Se- Bali,Tolong buka mata dan telinga Bapak semua sebagai pengambil kebijakan, dengan adanya Polemik di masyarakat yang apinya  disulut yang namanya Hare Kresna (HK) dan ISCKON.

"Jangan justru kepedulian Kami yang murni untuk ajeg Bali Nang Sat Kerti Local Bali yang di permasalahkan,  karena Kami bergerak seperti asap karena ada api  yang di nyalakan pihak HK /ISCKON", paparnya.

"Yang mau ikut peduli turun titik kumpul Parkir Lila Buana Denpasar Hari Senin 3 Agustus 2020 pukul 11.30 Wita ,tetap Kita ikuti protokoler kesehatan yaitu peserta harap memakai Masker dan pembersih tangan serta tunduk pada One Comando"."pungkasnya. (GUN)
close
Info Pasang Iklan