Isu Penghapusan Mata Pelajaran sejarah Mengada-Ada Dan Tidak Bisa Di Pertanggung Jawabkan -->

Iklan Semua Halaman

Isu Penghapusan Mata Pelajaran sejarah Mengada-Ada Dan Tidak Bisa Di Pertanggung Jawabkan

Media DPR
Selasa, 06 Oktober 2020


JAKARTA | MEDIA-DPR.COM, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan, penyederhanaan kurikulum tidak akan dilakukan hingga 2022. Bahkan Menghapus mata pelajaran sejarah dari kurikulum nasional tidak akan pernah di lakukan.Publik Jangan terpengaruh dengan isu tidak bertanggung jawab.


Nadim menyebut penyederhanaan kurikulum tidak akan dilakukan sampai tahun 2022. 


"Kami akan melakukan berbagai macam prototyping di Sekolah Penggerak yang terpilih dan bukan dalam skala nasional,"imbuhnya


Sementara itu menurut Prof Sumaryoto yang terpenting dalam isu penghapusan mata pelajaran sejarah adalah siapa yang punya usul dan yang kedua apa alasannya itu harus jelas dulu. 


"Jadi polemik ini tidak ada artinya kalau tidak jelas siapa yang punya usul dan apa alasannya,"ujar Prof Sumaryoto selaku Rektor Unindra kepada MEDIA-DPR.COM, di Jakarta, Selasa (06/10/2020)


Dikatakan Prof Sumaryoto siapapun mereka itu setingkat Dirjen maupun para pejabat negara lainnya yang sudah jelas-jelas menghapus sejarah itu tidak ada manfaatnya walaupun secara ilmiah dan apalagi  historisnya sendiri juga tidak ada yang bisa di pertanggung jawabkan.


"Bahkan pesan pidato sang Proklamator  Presiden RI, Bung Karno mengatakan jangan sekali-kali melupakan sejarah  yang sampai saat ini dikenal dengan (Jasmerah)," tuturnya.


Prof Sumaryoto menegaskan bahwa dirinya merasa aneh kalau ada para pejabat negara maupun tokoh-tokoh nasional yang ingin mencoba-coba untuk menghapus pelajaran sejarah, apalagi alasannya cuma karena efisiensi dan yang katanya juga tidak relefan dengan kondisi jaman sekarang ini.


"Saya tegaskan semua alasan itu tidak tepat dan sangat mengada -ngada saja, bahkan pelajaran sejarah lebih mudah dengan Daring," tegasnya


Menurutnya justru penghapusan sejarah  ini malah ada  tanda tanya besar Kenapa ? Karena ini diduga mungkin ada oknum pihak tertentu  yang ingin membelokan sejarah. 


"Maaf saja, ini saya menduga  mungkin ada oknum-oknum pihak tertentu merasa susah ingin membelokan sejarah, kemungkinan mereka ingin menghapus sekalian pelajaran sejarah," imbuhnya.


Lebih lanjut Prof Sumaryoto mengatakan sangat merugikan bangsa Indonesia ini kedepannya, jika pelajaran sejarah dihapus bagaimana generasi muda mengetahui dirinya dan akan menghargai bangsanya sendiri sehingga akan terjadi bias dan menjadi kehilangan arah jati diri bangsa Indonesia.


"Pelajaran sejarah itu sangat penting jangan meremehkan sejarah karena sejarah bisa membuat kita bisa mengetahui dahulu kelahiran maupun keturunan kita ini seperti apa dan kita juga bisa mengetahui abad ke berapa peradaban manusia ini sampai bagaimana manusia berkebudayaan,"urainya.


Memang bukti-bukti sejarah tambah Prof Sumaryoto itu tidak selalu sempurna, karena bukti sejarah itu berdasakan peninggalan , berdasarkan saksi dan berdasarkan tulisan masa lalu seperti saksi dalam sejarah 30 S PKI Tahun 1965 yang lalu. Karena memang wajar kalau tentara memang cenderung menyalahkan PKI, sebaliknya pihak PKI menyalahkan tentara ini kalau bicara saksi sejarah.


"Yang rentan sekali memang orang masing-masing punya rasa memang itu sesuatu fakta yang tidak bisa kita hindari, namun kan ada pendekatan dalam penelitian sejarah ini paling tidak mendekatkan pada fakta yang sebenarnya itu lah sejarah," katanya


Masih Menurut Prof Sumaryoto mengutip dalam Islam seperti juga dalam  Hadist diajaran Islam  muncul perbedaan pendapat hilafiyah, karena hadist itu adalah berita masa lalu apa yang diperbuat dan disabdakan oleh Rosul namun oleh orang lain di perbuat yang menjadikan adanya perbedaan disebut juga sejarah sunah Rosul 


"Begitu juga sejarah bangsa kita ini perbedaan selalu ada tapi jangan mengapus sejarah itu sangat mengada-ngada," tuturnya 


Tak hanya itu tambah Prof Sumaryoto selama belum ada bukti-bukti sejarah baru lain, karena masih akurat lebih baik kita pegang saja buku-buku sejarah bangsa Indonesia yang sudah ada. i


"Karena selama belum ada buku-buku lain yang membuktikan sejarah baru,"tandasnya.(S handoko)

close
Info Pasang Iklan