3 DESA DI CIREBON TIMUR (GUNUNGSARI, MEKARSARI, KARANGSARI) HARUS JADI PRIORITAS PEMDA CARIKAN SOLUSI PENANGANAN BANJIR

Iklan Semua Halaman

.

3 DESA DI CIREBON TIMUR (GUNUNGSARI, MEKARSARI, KARANGSARI) HARUS JADI PRIORITAS PEMDA CARIKAN SOLUSI PENANGANAN BANJIR

Media DPR
Selasa, 29 Desember 2020


JAWA BARAT | MEDIA-DPR.COM, Setiap masuk musim penghujan,  beberapa desa di wilayah Kecamatan Waled Kab. Cirebon, terutama di 3 Desa yaitu Gunungsari,  Mekarsari dan Karangsari sangat perlu perhatian. Pasalnya setiap musim hujan tiba,  masyarakat di 3 desa itu dilanda waswas. 

Waswasnya masyarakat ternyata berkaitan dengan soal banjir yang tiba-tiba datang disebabkan hujan dari Hulu, maupun hujan deras yang cukup lama sehingga debit air cepat bertambah,  akhirnya Banjir pun melanda.



Kalo hanya selutut banjirnya mungkin gak begitu risau masyarakat di tiga desa tersebut,  tapi ini ibarat di teror oleh bayangan banjir mungkin datang tiba-tiba saat warga tertidur lelap. 

Sabtu kemarin, 27 Desember 2020, Beberapa desa yang dilintasi sungai Ciberes terendam banjir. Yang paling parah desa Gunungsari, Mekarsari dengan banjir hingga sedada orang dewasa. 

Keesokan harinya saat air telah surut, sampah plastik, daun serta pohon tumbang yang terbawa arus akan berserakan di sekitar kampung. Begitupun harta benda masyarakat banyak yang hanyut, seperti ternak,  pertanian, Palawija, serta infrastruktur rusak. 



Di desa Mekarsari dan Gunungsari banyak UMKM yang menggantungkan hidupnya dari usaha Cue atau pindang. Di desa Gunungsari juga terdapat pesantren besar yang bersebelahan dengan Sungai. 

Dengan datangnya banjir,  maka banyak perabot rumah tersapu banjir, hingga mengalami banyak kerugian dari warga desa, ditambah lagi mengenai bahan baku pembuatan pindang atau cue yang tidak dapat terselamatkan saat banjir melanda. 

"Saat musim hujan tiba,  banjir akan terjadi, dan banjir seolah menjadi langganan desa kami. Tolong kepada pemda agar memberi perhatian lebih",  ucap Komarudin,  Relawan kemanusiaan dari Kader Banser mengeluhkan.

Setelah kami analisis dan survei ke lokasi,  beberapa hal bisa kita dapatkan kesimpulan sederhananya, yang menyebabkan terjadinya banjir hingga sedada orang dewasa di kedua desa tersebut. 

Yang pertama adalah faktor penangkalan sungai Ciberes,  yang dipenuhi lumpur dan gerusan tanah dari samping yang terkena abrasi. 

Kedua sering jebolnya tanggul Surakatiga saat debit air meningkat dan hujan terus menerus dari buangan air hujan di Kuningan  yang mengalir ke Surakatiga. 

Ketiga disebabkan curah hujan yang tinggi dan lama,  sehingga menimbulkan pertemuan pertemuan sungai-sungai kecil yang menyatu dengan kali Ciberes sehingga volume air semakin banyak. 

Keempat yaitu kondisi alam yang dimana sungai lebih tinggi dari posisi tanah desa,  sehingga air cepet melimpah. 

Kelima sebab kurangnya kordinasi dan konsolidasi antara pemerintah desa dengan pemerintah Kabupaten soal penanggulangan banjir di ketiga desa tersebut. 

"Berharap kedepan ada pertemuan antara pemerintah desa yang dilintasi sungai Ciberes,  untuk dapat mencari solusi bersama,  agar kedepan pada saat musim hujan. Tidak terjadi limpahan air sungai Ciberes masuk ke  perkampungan desa-desa yang dilintasi," ujar Komarudin saat bertemu tim DPR..COM sore waktu itu. (27/12/2020). 

(mam/red)

close
Info Pasang Iklan