PANDAN | MEDIA-DPR.COM. Suasana di depan Kantor Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng). Jln. Dr. Ferdinand Lumban Tobing Kota Pandan Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) Provinsi Sumatra Utara (Sumut), memanas.
Perkumpulan Masyarakat Anti Korupsi (PERMAK) gelar aksi unjuk rasa besar Kamis (07/05/2026). Berbeda dari sebelumnya, kali ini massa tidak hanya berhenti di Inspektorat, namun melanjutkan langkah hingga ke depan kantor eksekutif sebagai bentuk eskalasi perjuangan.
Aksi ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum Maslan Simanjuntak, didukung oleh Dewan Penasehat Asber Manalu dan Muliater Tarihoran, dengan tuntutan utama agar kasus pengelolaan Dana Desa segera diusut tuntas.
"Inspektorat Rapor Merah, Tutup Mata"
Aksi diawali di depan Kantor Inspektorat. Dalam orasinya, Muliater Tarihoran melontarkan kritik pedas terhadap kinerja pengawasan yang dinilai sangat buruk.
“Sudah cukup lama laporan masuk, tapi tidak ada titik terang. Bahkan terkesan ditutup-tutupi. Sudahi puisimu, Inspektur. Jangan tutup mata terhadap kejahatan ini,” tegasnya dengan emosi yang menggugah massa.
Mereka menilai Inspektorat memiliki "rapor merah" dalam menjalankan fungsi audit, sehingga kebenaran soal Dana Desa tidak pernah terungkap.
Suara Lansia dan Balita yang Dirampas
Setelah menyampaikan tuntutan di Inspektorat, massa bergerak menuju Kantor Bupati. Di sana, Asber Manalu menegaskan bahwa apa yang dibawa bukan sekadar aksi sesaat, melainkan akumulasi kesedihan masyarakat selama bertahun-tahun.
“Suara kami adalah suara lansia yang haknya dirampas, suara balita yang tidak dapat haknya, serta penerima BLT yang terabaikan. Semua keluhan itu tertahan di meja Inspektorat,” ujarnya lantang.
Minta Bupati Tegas, Copot Pimpinan yang Gagal
Dalam tuntutannya, PERMAK mendesak Bupati Masinton Pasaribu untuk segera bertindak tegas. Mereka meminta evaluasi kinerja Inspektorat dan tidak menutup kemungkinan pencopotan pimpinan yang dinilai gagal menjalankan tugas secara profesional dan transparan.
“Dengarkanlah denyut nadi masyarakat desa yang selama ini tertahan. Di bawah kepemimpinan Bapak, kami percaya ini saatnya perubahan. Karena perubahan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang mendesak,” pungkas Asber.
Peringatan Keras: Siap Kembali Jika Diabaikan
Menutup aksi, Maslan Simanjuntak menegaskan bahwa kedatangan mereka murni bentuk kepedulian, bukan untuk mengganggu, namun untuk menyelamatkan hak rakyat.
“Kami berharap ini yang pertama dan terakhir. Namun jika suara kami diabaikan, kami siap kembali dengan gelombang yang jauh lebih besar,” tegasnya.
Aksi berlangsung tertib dan damai, meninggalkan harapan besar agar pemerintah daerah segera memberikan respons nyata demi terwujudnya keadilan dan integritas. (Red).

Komentar

