Kematian Boy Simamora: Dugaan Serangan Buaya Penuh Tanda Tanya, Luka di Leher dan Keterangan Saksi Jadi Misteri Besar
TAPTENG | MEDIA-DPR.COM. Kabar duka sekaligus tanda tanya besar masih menyelimuti Desa Sampang Maruhur, Kecamatan Sirandorung, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) Provinsi Sumatra Utara (Sumut)
Sejak ditemukannya jenazah pemuda berinisial Boy Simamora (BS) 20 tahun, pada Kamis (28/05/2026), kasus yang awalnya dianggap murni kecelakaan akibat serangan buaya di Sungai Saga Matua, kini berubah menjadi polemik publik yang tajam dan penuh kecurigaan.
Kejanggalan demi kejanggalan mulai terungkap, mulai dari perbedaan fakta di lapangan dengan rilis resmi kepolisian, kondisi fisik jenazah, keterangan saksi yang membingungkan, hingga sorotan keras masyarakat yang mempertanggungjawabkan peran pihak perusahaan dan petugas keamanan yang terlibat sebelum korban jatuh ke sungai.
Issue ini menjadi perbincangan hangat dan sorotan utama di akun TAPTENG BERSATU UNTUK PERUBAHAN (TBUP) serta berbagai kalangan masyarakat.
Versi Resmi vs Fakta Warga: Di Mana Ambulans dan Anggota Polisi?
Berdasarkan siaran pers Humas Polres Tapteng, disebutkan bahwa pencarian dilakukan sejak Rabu malam (27/05/2026) oleh tim Polsek Manduamas, dipimpin Kanit Reskrim, didampingi dokter Puskesmas, serta difasilitasi ambulans. Namun, fakta yang dihimpun warga dan rekaman video di lokasi membantah narasi tersebut.
"Menanggapi berita pers release Humas Polres Tapteng, ternyata kebenarannya tidaklah seperti itu. Kehadiran anggota polisi maupun ambulans yang disebutkan, faktanya berbeda dengan apa yang tertulis," tegas warga yang berada di lokasi saat kejadian. Ketidaksesuaian data ini menjadi awal keraguan publik terhadap penanganan kasus ini.
Luka di Leher: Gigitan Buaya atau Akibat Penganiayaan?
Poin paling menyakitkan sekaligus menjadi sumber kecurigaan terbesar adalah kondisi jenazah BS. Warga yang ikut evakuasi merasakan keanehan saat melihat lubang atau luka di leher korban.
Sebuah pesan menyayat hati beredar di kalangan warga: "Jika engkau benar-benar meninggal karena diterkam buaya adekku BS, bisikkanlah ke telingaku walau melalui mimpi... Karena saya dongan tubumu selalu bertanya-tanya dalam hati karena lubang yang ada di lehermu itu, lubang gigitan buaya kah?"
Kecurigaan semakin kuat setelah muncul keterangan saksi mata yang menyebut sempat melihat sosok manusia di mulut buaya, namun ragu apakah itu BS atau orang lain. Pertanyaan logis pun muncul: "Kalau tak ada warga lain hilang, berarti itu BS. Tapi kalau nanti otopsi bukti korban mati karena penganiayaan, bagaimana nasib keterangan saksi itu?"
Publik kini bertanya: Apakah luka itu bekas gigi buaya, atau bekas tindakan kekerasan manusia sebelum korban masuk ke sungai?
Dugaan Keterlibatan Pihak Perusahaan: Ke Mana Tanggung Jawabnya?
Pertanyaan paling tajam dan krusial yang kini bergema di masyarakat adalah soal peristiwa sesaat sebelum korban melompat ke sungai. Berdasarkan informasi yang berkembang luas, korban sedang dikejar oleh petugas keamanan (security).
Masyarakat menyorot pola hukum yang selalu berulang: "Kalau otopsi nanti menyatakan bukan buaya penyebab kematian, tersangka utamanya pasti security yang mengejar. Tapi pertanyaannya: mereka bekerja di mana? Digaji siapa?"
Publik menuding adanya upaya perusahaan melepaskan tanggung jawab dengan alasan standar: "Kami suruh jaga buah, bukan suruh membunuh." Padahal, tekanan dan cara kerja yang diterapkan dianggap setara dengan perintah tersirat "tuntaskan saja". Ironisnya, petugas lapangan tak punya rekaman perintah itu, sehingga merekalah yang berisiko jadi tersangka, sementara pemberi kerja aman.
"Otopsi itu gratis. Yang mahal itu kejujuran dalam prosesnya," tulis warga di akun TBUP, menuntut hasil murni tanpa rekayasa.
Sorotan pedas juga disampaikan lewat sindiran pepatah: "Kalau ayam masih mau makan jagung, masalah selesai." Ini ditujukan pada cara perusahaan menutup masalah dengan ganti rugi. Tapi publik bertanya: "Kalau ayam tak mau makan jagung lagi, diapakan dia?" – tanda masyarakat mulai tak mau lagi dibungkam cara lama.
Keluarga Tolak Otopsi, Publik Tetap Menuntut Kebenaran
Secara resmi, keluarga telah mengikhlaskan kepergian BS dan menandatangani penolakan otopsi dengan alasan meyakini kematian akibat hewan liar. Polisi pun telah berkoordinasi dengan BKSDA untuk pemantauan satwa.
Namun, kejanggalan luka, keterangan saksi yang simpang siur, hingga dugaan keterlibatan pihak perusahaan membuat masyarakat tak berhenti bertanya. Kasus Boy Simamora kini bukan sekadar berita duka, tapi simbol perlawanan warga menuntut penegakan hukum yang jujur, adil, dan tak hanya menyalahkan petugas lapangan.
Mata publik masih terbuka lebar. Semua menunggu jawaban pasti: Apakah BS dimangsa buaya, atau ada tangan manusia di balik kematiannya?
Ditulis oleh Demak MP Panjaitan/Pance

Komentar

