TAPSEL | MEDIA-DPR.COM. Pdt. Petrus Nasution lahir dengan nama Djadestor Nasution, merupakan putra dari Djaroemahot Nasution, cucu Idris Nasution, dan cicit Agu Nasution.
Ia tercatat sebagai salah satu dari empat orang putera Batak pertama yang menempuh pendidikan di Sekolah Pendeta pada tahun 1883, bersama Markus Siregar dan rekan lainnya, kecuali Johannes Sitompul yang meninggal dunia sebelum menyelesaikan pendidikannya.
Pada 19 Juli 1885, Petrus Nasution resmi ditahbiskan menjadi pendeta di Gereja HKBP Pearaja, Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) Provinsi Sumatra Utara (Sumut), menandai tonggak sejarah baru bagi keterlibatan langsung putera daerah dalam pelayanan gereja di tanah Batak.
Sumber: Edimarco Aritonang, Unggahan Forum Batak Angkola Berdasarkan Arsip: VEM-RMG Barmen Wuppertal, Jerman Sabtu (13/06/)2026
JEJAK KELUARGA YANG MEMBUKA JALAN
Ada sisi menarik dari latar belakang keluarganya: Ayahnya, Djaroemahot Nasution, meskipun beragama Islam, adalah orang yang memberikan sebidang tanah kepada misionaris Gerrit Van Asselt pada tahun 1858 di Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) Provinsi Sumatra Utara (Sumut)
Tanah tersebut kemudian dijadikan lokasi pembangunan Gereja dan sekolah Kristen pertama di wilayah itu, yang dikenal dengan nama “Sikkola Topas”, sekolah yang seluruh bangunannya terbuat dari kayu. Bahkan Ompu I.L. Nommensen sempat mengajar di lembaga ini setelah bertugas di Barus Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) Provinsi Sumatra Utara (Sumut)
Petrus Nasution beserta istrinya dibaptis menjadi Kristen pada tahun 1883 di Sipirok, bersama dua saudaranya:
St. Johannes Nasution (Dja Malayu), yang mendampingi Ompu Nommensen dari Parau Sorat ke Silindung dan berperan merintis perkampungan Huta Dame;
- Demang Tanduk Mangaraja Nasution, Demang pertama di Balige yang menjabat tahun 1914–1928 dan turut mengurus pemakaman Ompu Nommensen di Sigumpar tahun 1918.
PENGABDIAN DAN PERJUANGAN
Di awal masa pelayanannya, Pdt. Petrus Nasution mendirikan Gereja Kayu di Parlagutan, Padang Matinggi, salah satu gereja pertama yang didirikan dan dipimpin langsung oleh pendeta putera Batak.
Sepanjang pengabdiannya, ia melayani di berbagai wilayah, antara lain Parausorat, Huta Raja, Barerang, Baringin, Janji Mauli, Saba Tarutung, dan Tapus, hingga menjangkau pelosok wilayah Angkola.
Ia dikenal sebagai sosok yang gigih membuka jalan pelayanan ke daerah-daerah terpencil, didukung oleh sahabatnya, Ephraim Harahap, yang saat itu menjabat Kepala Jaksa Karesidenan Tapanuli di Padang Sidimpuan.
Pdt. Petrus Nasution menghabiskan sisa hidupnya dan dimakamkan di Parausorat pada tahun 1920.
Nama dan perjuangannya tetap tercatat dalam sejarah sebagai salah satu perintis yang meletakkan dasar kuat bagi perkembangan gereja dan pendidikan di Tapanuli Selatan dan Angkola.(RMP).

Komentar

