Sambil Menangis, Anak Wartawan Karo Ungkap Teror dari Oknum TNI Sebelum Ayahnya Tewas

Iklan Semua Halaman

.

Sambil Menangis, Anak Wartawan Karo Ungkap Teror dari Oknum TNI Sebelum Ayahnya Tewas

Staff Redaksi Media DPR
Minggu, 25 Januari 2026


SUMUT | MEDIA-DPR.COM. Eva Meliani Pasaribu, anak sulung jurnalis Rico Sempurna Pasaribu yang tewas akibat rumahnya dibakar pada Kamis (27/06/2024),  di Kabupaten Karo Provinsi Sumatra Utara (Sumut), mengungkap rentetan peristiwa sebelum dan sesudah kematian ayahnya saat menjadi saksi di Mahkamah Konstitusi (MK).


"Dalam sidang permohonan uji materiil Undang-Undang tentang Peradilan Militer. Permohonan diajukan bersama Leni Damanik, ibu dari anak yang tewas di tangan oknum TNI".


Eva meyakini ayahnya tewas karena pemberitaan tentang bisnis judi yang diduga dibekingi oknum TNI. "Ayah saya secara berturut-turut memberitakan isu tersebut pada tanggal 21, 22, 23, dan 26 Juni 2024, satu hari sebelum pembakaran terjadi," ungkap Eva, dikutip dari YouTube MK pada Kamis (15/01/2026).


Ia mengungkapkan bahwa Rico Sempurna Pasaribu pernah dihampiri Koptu HB yang meminta untuk menurunkan berita tersebut. Ayahnya kemudian menyatakan akan meminta perlindungan ke Polda Sumut dan menyampaikan pesan ancaman yang diterimanya kepada Kasat Reskrim Polres Tanah Karo. Koptu HB juga mengirim pesan kepada pemred media tempat ayahnya bekerja. 

.

"Dari hasil investigasi, ayah saya dihimbau untuk tidak pulang ke rumah karena alasan keamanan," ujarnya.


Eva menyebutkan bahwa Bebas Ginting, salah satu terdakwa yang sudah divonis seumur hidup, akrab dengan ayahnya dan pernah menyatakan bahwa Koptu HB adalah yang menyuruh melakukan pembakaran. Bebas juga mengakui menerima uang Rp.1 juta sebagai bonus. 


Keluarga kemudian melaporkan ke Puspomad Jakarta dan diminta membuat laporan lagi di Medan Sumut, namun tidak mendapatkan kejelasan hasil pemeriksaan dari Pomdam I/Bukit Barisan.


"Saat melakukan tindak lanjut, penyidik berganti-ganti sehingga proses berjalan lambat. Proses hukum terhadap Koptu HB berlangsung tertutup dan minim informasi," kata Eva sambil menangis. 


Ia menilai ada ketimpangan perlakuan hukum, karena anggota militer seolah berada di luar pengawasan publik, berbeda dengan warga sipil. 


"Koptu HB masih tetap bertugas dan tidak diproses secara transparan, ini adalah bukti nyata ketidakadilan," tegasnya.


Keluarga korban menilai kondisi tersebut berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap sistem peradilan dan komitmen negara dalam melindungi kebebasan pers.

(Diolah dari berita MEDIA-DPR.COM.dikutip dari Eva, YouTube MK pada Kamis (15/01/2026). ( Demak MP Panjaitan/Pance)

close