Meski Dikeroyok Akibat Hasil Seleksi Perangkat Desa, Kades Hoho Alkaf Tegas Tetap pada Keputusan dan Laporkan ke Polisi

Iklan Semua Halaman

.

Meski Dikeroyok Akibat Hasil Seleksi Perangkat Desa, Kades Hoho Alkaf Tegas Tetap pada Keputusan dan Laporkan ke Polisi

Staff Redaksi Media DPR Jambi
Minggu, 15 Maret 2026

Sikap Teguh pada Prinsip Jadi Contoh Pentingnya Integritas dalam Pemerintahan Desa

H. Welas Yuni Nugroho, S.H., yang akrab akrab disapa Hoho Alkaf. 


NJARNEGARA | MEDIA-DPR-COM. 

Kepala Desa (Kades) Desa Purwasaba, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah (Jateng), H. Welas Yuni Nugroho, S.H., yang akrab disapa Hoho Alkaf. menjadi korban pengeroyokan setelah menolak membatalkan hasil seleksi perangkat desa yang dinilai sesuai aturan. 


Peristiwa ini terjadi pada 11 Maret 2026 setelah massa yang diduga berasal dari oknum anggota organisasi masyarakat dan warga melakukan demonstrasi di depan Kantor Balai Desa karena tidak terima dengan hasil penjaringan calon perangkat desa.

 

Hoho mengaku diserang secara tiba-tiba oleh kerumunan saat hendak keluar dari aula balai desa. Akibatnya, baju dinasnya robek-robek, kacamata pecah, dan ia mengalami beberapa luka fisik. 


Meskipun mendapat tekanan dan kekerasan, ia tetap konsisten pada keputusannya dan telah melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian serta meminta perlindungan hukum.

 

Pesan Inspiratif: Integritas dan Kepatuhan pada Aturan Harus Jadi Landasan Pemerintahan

Keputusan Kades Hoho untuk tidak membongkar hasil seleksi yang telah melalui proses yang benar menjadi contoh nyata bahwa pejabat publik harus teguh pada prinsip dan aturan. 


Sikapnya menunjukkan bahwa kepemimpinan yang baik tidak terpengaruh oleh tekanan massa atau kepentingan kelompok tertentu, melainkan berlandaskan pada keadilan dan transparansi.

 

Selain itu, langkahnya untuk melaporkan kejadian ke pihak berwenang juga mengingatkan masyarakat bahwa setiap bentuk kekerasan tidak dapat diterima dan harus diselesaikan melalui jalur hukum yang sah. 


Hal ini menjadi teladan bahwa dalam menghadapi konflik, kita harus memilih cara yang damai dan sesuai peraturan negara.

 

Kades Hoho, yang nama lengkapnya Welas Yuni Nugroho, lahir pada 11 Juni 1983 (berusia 43 tahun) atau 1988 (berbeda sumber) di Banjarnegara. 


Ia adalah anak terakhir dari empat bersaudara; ayahnya, Sis Woyo Siswo Harsono, pernah menjadi anggota DPRD Banjarnegara dan Kades Purwasaba periode 1990-1998. Sudah menikah dengan Erna Widiastuti dan dikaruniai seorang putri.

 

Lulusan Universitas Sultan Agung Semarang dengan gelar master hukum ini sebelumnya adalah pengusaha di bidang jasa konstruksi dan penyewaan alat berat sebelum menjabat sebagai kades pada tahun 2019. 


Selama menjabat, ia dikenal dermawan dan berdedikasi, membangun jalan dengan uang pribadi, menghibahkan mobil untuk keperluan desa, serta mengembangkan program ketahanan pangan yang meningkatkan pendapatan masyarakat desa.

 

Dikenal dengan penampilan nyentrik yang memiliki tato di sekujur tubuh dan ditindik telinga, Hoho mengaku pernah melakukan kenakalan pada masa muda namun kemudian memperbaiki diri setelah menikah dan kehilangan orang tua. 


Perjalanan hidupnya yang penuh perubahan, ditambah dengan sikap teguh pada prinsip saat ini, menjadi bukti bahwa setiap orang dapat berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.(Red)

close