TAPANULI TENGAH | MEDIA-DPR.COM. Pelaksanaan ritual adat "Tolak Bala" yang melibatkan penanaman kepala kerbau di lokasi bencana banjir bandang dan tanah longsor di Kelurahan Sipange, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) Provinsi Sumatra Utara (Sumut), memicu pertanyaan tajam dari masyarakat, khususnya umat Kristiani. Ritual tersebut digelar dalam rangka peringatan Hari Jadi ke -81 Kabupaten Tapteng yang dihadiri Bupati Masinton Pasaribu, S.H., M.H.
Sejumlah warga dan tokoh masyarakat menyampaikan keberatan mendalam, terutama karena Tapteng adalah wilayah dengan mayoritas penduduk beragama Kristen:
"Umat Kristiani tidak pernah melakukan ritual dan Tolak Bala jika terjadi bencana alam di daerah itu sendiri. Seyogyanya hanya meminta berdoa kepada Allah agar bencana alam yang timbul dapat diatasi karena kekuasaan Tuhan."
Pertanyaan yang muncul di tengah masyarakat:
- Apakah ritual penanaman kepala kerbau itu sesuai dengan ajaran agama Kristen?
- Mengapa mengandalkan sesajen dan ritual magis, padahal perlindungan hanya datang dari Tuhan?
- Apakah sebagai pemimpin daerah, Bupati harus memimpin ritual yang bertentangan dengan iman sebagian besar rakyatnya?
Pernyataan yang beredar di masyarakat sangat tegas:
"Masinton, jangan sampai Allah murka kepada saudara-saudara kami hanya karena ulahmu. Tolak Bala yang menanam kepala kerbau untuk menolak bencana, itu bukan jalan kami. Kami percaya bahwa keselamatan dan perlindungan sepenuhnya berada di tangan Tuhan. Bukan di kepala kerbau yang ditanam di tanah."
DASAR AJARAN KRISTEN: DOA, BUKAN RITUAL MAGIS
Sesuai dengan penjelasan sebelumnya dari tokoh rohani Tigor Panuturi Tambunan, dalam iman Kristen:
- Perlindungan dari bencana berasal hanya dari Tuhan, bukan dari ritual, sesajen, atau mantra
- Menghargai budaya tidak berarti harus mengikuti ritual yang bertentangan dengan iman
- Menghadapi bencana, umat Kristen diperintahkan untuk berdoa, bertobat, dan berserah kepada Tuhan, bukan melakukan upacara tolak bala
Masyarakat berhak bertanya:
- Apakah ritual ini murni kearifan lokal yang dihormati, atau justru digunakan sebagai pengganti penanganan bencana yang tertunda?
- Mengapa di saat korban bencana masih menunggu Jadup, Stimulan, dan Huntap yang belum jelas, justru ritual dan hiburan yang didahulukan?
- Apakah Bupati memahami bahwa bagi umat Kristen, Tolak Bala bukanlah solusi, melainkan penghinaan terhadap iman mereka?
"Kami tidak menolak budaya. Tapi kami menolak ketika ritual magis diposisikan sebagai jawaban atas penderitaan rakyat. Bencana ditanggulangi dengan doa, tobat, dan kerja nyata, bukan dengan menanam kepala kerbau." Disampaikan untuk diketahui publik, Pemkab Tapteng, DPRD Tapteng, dan seluruh umat beriman Jumat (28/08/2026).
Lisberth Manik S.E.

Komentar

