SIBOLGA / GUNUNGSITOLI | MEDIA-DPR.COM. Keluhan masyarakat terkait dugaan pungutan liar (pungli) di dua pelabuhan strategis, Pelabuhan Pelindo Sibolga dan Pelabuhan Pelindo Gunungsitoli, Nias Provinsi Sumatra Utara (Sumut), semakin mengemuka.
Warga yang menyeberang dari Sibolga ke Nias maupun sebaliknya mengaku terus terbebani biaya-biaya yang tidak wajar dan tidak memiliki dasar resmi.Sumber: Keluhan warga / Unggahan masyarakat Minggu (20/09/2026).
Seorang penumpang menyampaikan rincian biaya yang ia alami: 'Keterangan Harga Tiket Resmi Pungutan di Pelabuhan
- Tiket penumpang online Rp.125.000 Cetak tiket: Rp.14.000
- Sepeda motor, Masuk kapal Sudah dibayar Rp. 35.000
- Koper barang Bawa sendiri Ditahan, dipaksa bayar penitipan: Rp.10.000
- Sepeda motor, Keluar kapal Sudah dibayar Rp.14.000
"Saya sudah beli tiket secara online. Tapi begitu sampai di pelabuhan, masih ada pungutan di sana-sini. Koper pun dihambat, dibilang tidak boleh masuk kelas ekonomi, lalu disuruh titip dan bayar Rp. 10.000. Itu bukan pelayanan, itu pemerasan," ungkap warga yang mengirimkan keluhan ini.
Pungutan serupa juga terjadi pada rute sebaliknya dari Nias ke Sibolga.
Masyarakat Pernah Demo, Namun Pungli Masih Berlanjut
Diketahui, masyarakat sudah pernah melakukan demonstrasi terkait praktik pungli di kedua pelabuhan tersebut. Namun keluhan warga menunjukkan praktik tersebut masih terjadi dan uang yang dipungut diduga masuk ke kantong pribadi oknum, bukan ke kas negara.
Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution S.E., M.M. sebelumnya telah menegaskan bahwa segala bentuk kutipan ilegal di pelabuhan harus dihapuskan. Saat melepas pelayaran perdana KMP Jatra II di Gunungsitoli, beliau menyatakan: "Yang ilegal-ilegal seperti kutipan liar, calo, dan segala bentuk pungli di pelabuhan harus kita berantas! Ini sangat merugikan masyarakat dan bikin harga barang makin mahal," tegas Gubernur Bobby Nasution .
Masyarakat kini berharap pernyataan tersebut segera diwujudkan dengan tindakan nyata di lapangan. Warga memohon kepada Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution untuk:
- Turun langsung ke lapangan memantau praktik pungli di Pelabuhan Sibolga dan Gunungsitoli
- Membentuk tim khusus yang menelusuri siapa saja yang terlibat dalam jaringan pungli di kedua pelabuhan
- Memastikan tarif resmi tiket sudah mencakup seluruh biaya — tidak boleh ada pungutan tambahan apa pun di pelabuhan
- Menindak tegas oknum yang terbukti memungut uang secara tidak resmi
"Kami ingin berlayar dengan tenang, bukan merasa diperas di pelabuhan sendiri. Kami butuh keadilan dan pelayanan yang jujur," ujar warga.
"Pelabuhan adalah gerbang kemajuan, bukan tempat pemerasan. Uang rakyat sudah cukup banyak jangan dikurangi lagi dengan pungutan liar yang tidak bertanggung jawab."
Semoga keluhan ini segera didengar dan ditindaklanjuti oleh pihak berwenang.
Lisbeth Manik S.E.

Komentar

