Bijak Memilih Teman: Menjauhi Watak Sangkuni Bukan Berarti Sombong, Itu Menghargai Diri Sendiri

Iklan Semua Halaman

.

Bijak Memilih Teman: Menjauhi Watak Sangkuni Bukan Berarti Sombong, Itu Menghargai Diri Sendiri

Staff Redaksi Media DPR Jambi
Minggu, 25 Oktober 2026

 


Keterangan: Foto ilustrasi 


 

BANDUNG, MEDIA - DPR.COM Dalam kisah epik Mahabharata, tokoh Sangkuni dikenal sebagai sosok yang cerdas namun penuh tipu daya. 


"Licik, manipulatif, dan selalu mengutamakan kepentingan pribadi di atas segalanya."



Watak inilah yang sering diingatkan para orang tua, khususnya para ibu, agar anak-anak berhati-hati dalam memilih teman.

 

"Jangan mudah percaya, jangan berteman dengan orang yang berwatak Sangkuni." Pesan sederhana ini kerap terucap dari para ibu. 


Bukan bermaksud menanamkan sikap tertutup, melainkan bentuk kasih sayang agar anak-anak tidak terluka oleh orang yang salah," ujar seorang ibu di wilayah Pangalengan, Kabupaten Bandung, yang enggan disebutkan namanya, Minggu (25/10/2026).

 

Menurutnya, berteman dengan orang yang berwatak seperti Sangkuni dapat berdampak buruk. 



Mereka sering terlihat sangat baik di depan, namun bisa berkata atau melakukan hal yang merugikan saat kita tidak ada. 


Hubungan yang dibangun pun terasa melelahkan karena kita selalu waspada dan tidak merasa tenang," tambahnya.

 

Begini cara melihat watak Sangkuni menurut Ibu yang bisa dijadikan panduan, sebagaimana disampaikan tokoh masyarakat dan pemerhati sosial:

 

- Suka memutarbalikkan fakta: Ucapan berubah-ubah sesuai kepentingan, tidak konsisten, dan kerap menyesatkan situasi demi keuntungan sendiri.


- Manipulatif: Pandai memainkan perasaan orang lain agar sesuai keinginannya, tanpa peduli perasaan orang lain terluka atau tidak.


- Hanya hadir saat butuh: Perhatiannya terasa berlebihan saat ada maunya, namun menghilang saat kita yang membutuhkan bantuan.


- Suka mengadu domba: Menciptakan ketegangan antar teman, seolah-olah dialah pihak yang paling benar dan paling dikorbankan.


- Pujian yang tidak tulus: Kata-katanya manis di depan, namun justru membicarakan keburukan di belakang punggung.


- Selalu merasa benar: Sulit menerima kritik, selalu menyalahkan keadaan atau orang lain atas kesalahannya sendiri.

 

"Kita tidak boleh membenci siapa pun, tetapi kita harus bijak dalam menentukan seberapa dekat kita dengan seseorang. Menjaga jarak dari orang yang tidak tulus bukan berarti sombong, itu bentuk menghargai diri sendiri," pesan ibu tersebut.

 

Memiliki sedikit teman yang tulus jauh lebih berharga daripada memiliki banyak teman yang penuh kepura-puraan. 


Itulah pesan sederhana namun mendalam yang ingin disampaikan para ibu — agar anak-anak tumbuh di lingkungan yang sehat, aman, dan tulus, pungkas Ibu di akhir pembicaraan.


(Ayi Supriatna)

close