Potret : Seorang Nenek Suku Karo ( bahasa Karo: Nini ) sedang memberi makan babi - babinya ( bahasa Karo : wili )
SUMUT | MEDIA-DPR.COM. Sebelumnya kita mengenal sosok wanita Karo yang merawat ternak babi atau "wili" di sekitar Kota Medan Provinsi Sumatra Utara (Sumut), beserta hubungan erat hewan ini dengan kehidupan sosial suku Karo dan kelahiran kuliner ikonik Babi Panggang Karo (BPK).
Kini, mari kita telusuri lebih dalam bagaimana tradisi turun-temurun ini mampu bertahan dan bahkan berkembang menjadi daya tarik yang menginspirasi banyak orang.
Tradisi Ternak "Wili" yang Mengikat Komunitas: "Dalam kehidupan masyarakat Karo, pemeliharaan wili bukan hanya aktivitas ekonomi, melainkan juga bentuk pelestarian budaya"
Seorang wanita Karo yang merawat ternak biasanya mengikuti metode tradisional yang diajarkan dari generasi ke generasi, mulai dari pemilihan jenis pakan alami seperti dedaunan dan sisa makanan rumah tangga, hingga cara merawat agar ternak tetap sehat dan berkualitas.
Pada acara adat seperti "Upras" (upacara syukuran) atau pernikahan, wili sering kali menjadi pusat perhatian".
Pengorbanan hewan ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan untuk mempererat tali silaturahmi antar keluarga serta tetangga. Prosesnya juga mengikuti tatacara adat yang penuh makna, menunjukkan betapa nilai-nilai budaya masih sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Karo hingga saat ini.
Rahasia Kuliner BPK yang Mendunia: "BPK tidak sekadar hidangan panggang biasa – proses pembuatannya menyimpan banyak nilai budaya".
Bumbu yang digunakan terdiri dari rempah-rempah lokal seperti kemiri, cabai, bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, dan "bunga kantan" yang memberikan aroma khas.
Sebelum diasapkan, daging wili akan diasinkan selama beberapa jam agar bumbu meresap sempurna.
Pengasapan sendiri menggunakan kayu dari pohon "aren" atau "jati" yang memberikan rasa dan aroma khas yang tidak dapat digantikan.
Hasilnya adalah daging babi yang empuk, berwarna kecoklatan keemasan, dengan rasa yang gurih dan sedikit asap yang menggugah selera.
Saat ini, banyak usaha kecil menengah yang menjalankan bisnis BPK di sekitar Medan dan wilayah Karo, bahkan beberapa telah menjangkau pasar luar daerah. Keberhasilan mereka membuktikan bahwa kekayaan budaya lokal dapat menjadi sumber penghidupan yang layak dan inspirasi bagi masyarakat untuk mengembangkan produk unggulan daerah.
Inspirasi bagi Masyarakat: "Potret hubungan erat masyarakat Karo dengan wili dan kelahiran BPK menjadi contoh bagaimana budaya tradisional dapat tetap relevan dan memberikan manfaat di era modern".
Hal ini mengajak kita untuk lebih menghargai kekayaan budaya lokal masing-masing daerah, serta menjadikannya sebagai dasar untuk berkembang dan bersaing secara positif.
Ditulis, Demak MP Panjaitan/Pance MEDIA-DPR-COM. Sumber dan Gambar Aditia Barus Sejarah dan Budaya Suku Karo.

Komentar


