TAPANULI TENGAH | MEDIA-DPR-COM. Siapa sebenarnya oknum yang selama ini terus-menerus menyerang, menghujat, dan memfitnah Kepala Desa Sigambo-gambo Daniel Manalu yang sah terpilih?
Kini tabir misteri terbuka. Ternyata, orang yang selalu menjadi aktor intelektual di balik serangan tersebut adalah orang-orang yang sama, yang memiliki motif pribadi dan dendam politik karena tidak pernah menang dalam kontestasi pemilihan, serta kecewa karena tidak diakomodasi dalam struktur pemerintahan desa.
Berikut adalah fakta dan latar belakang mereka:
01. Muhammad Fazri Pasaribu, Sang Kandidat yang Selalu Kalah
Pria ini tercatat selalu mengalami kekalahan dalam setiap ajang pemilihan yang diikutinya. Ia kalah dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) tahun 2017, kalah lagi pada Pilkades 2021, hingga kalah dalam pemilihan anggota legislatif tahun 2024 lalu.
Kegagalan beruntun inilah yang diduga menjadi pemicu utama dendamnya terhadap Kepala Desa yang sekarang menjabat. Karena tidak bisa menerima kekalahan, ia memilih jalur serangan dan fitnah demi menjatuhkan image pemimpin yang sah dipilih rakyat.
02. Sukarmedi Simanullang, Kecewa Tak Diangkat Jadi Sekdes
Sukarmedi adalah pendukung utama dan calon Sekretaris Desa (Sekdes) andalan Muhammad Fazri Pasaribu. Jika calonnya menang pada Pilkades lalu, dialah yang direncanakan menduduki posisi Sekdes.
Namun setelah Kades terpilih menang, Sukarmedi datang meminta agar diangkat menjadi aparat desa, namun ditolak. Penolakan ini bukan tanpa alasan, karena masyarakat pun sudah memperingatkan Kades agar tidak mengangkatnya, mengingat rekam jejaknya yang buruk.
Diketahui, saat menjabat bersama Fazri sebelumnya, ia diduga kuat melakukan penyalahgunaan keuangan desa. Bahkan, ia pernah dipecat dari CU Pakkat karena kasus korupsi dana koperasi. Ketidakpopuleran dan ketidakpercayaan masyarakat inilah yang membuatnya kini membalas dengan kebencian.
03. Muhammad Husein Tanjung – Status Kepegawaian Dipertanyakan
Ia juga merupakan salah satu kandidat yang kalah pada Pilkades 2021. Kekalahan ini membuatnya menyimpan rasa tidak terima terhadap pemimpin baru.
Namun yang menjadi pertanyaan besar publik adalah status kepegawaiannya. Saat mencalonkan diri menjadi Kades, syarat utamanya adalah sudah mengundurkan diri dari ASN/P3K. Tapi anehnya, hingga saat ini nama Muhammad Husein Tanjung masih tercatat aktif sebagai tenaga P3K di Dinas Perhubungan (Dishub) Tapanuli Tengah. Ini menjadi tanda tanya besar dan perlu dikonfirmasi oleh Badan Kepegawaian Negara maupun instansi terkait.
04. Rahmad Marpaung – Kecewa Tak Gantikan Posisi Ayah
Motif dendam kelompok ini cukup sederhana namun merugikan, yaitu karena keinginannya untuk menggantikan posisi ayahnya, Ettin Marpaung, sebagai aparat desa tidak dikabulkan oleh Kades yang baru. Karena keinginan pribadinya tidak terpenuhi, ia ikut-ikutan menjadi penentang dan penyebar kebencian.
05. Fadli Pohan. Menantu yang Statusnya Juga Mengganjal
Fadli Pohan yang juga menantu dari Muhammad Fazri Pasaribu ini juga ikut bersuara keras menyerang Kades. Namun publik juga mempertanyakan keabsahan statusnya sebagai tenaga P3K.
Pasalnya, Fadli diketahui pernah dipecat dengan tidak hormat dari SMA MAN Barus karena kasus disiplin. Pertanyaannya, bagaimana bisa seseorang yang sudah dipecat bisa kembali diangkat menjadi P3K di instansi lain (Kemenag) dengan lancar? Ini dugaan kuat adanya rekayasa administrasi.
Masyarakat menilai, seharusnya kelompok ini bisa bersikap legowo (lapang dada) dan siap menerima kekalahan. Jika ingin bertarung kembali, mereka bisa menunggu periode berikutnya dan berkompetisi secara sehat dengan kerja nyata, bukan malah menjadi penghasut dan provokator yang memecah belah desa.
Padahal, Kepala Desa Sigambo-gambo yang sekarang menang secara mutlak, sah, dan demokratis sesuai hasil suara rakyat.
"Jangan karena ambisi pribadi dan dendam politik, seluruh desa dibuat rusuh. Rakyat butuh pembangunan dan ketenangan, bukan drama fitnah yang tidak berkesudahan," tegas salah satu tokoh masyarakat setempat.(Lisberth Manik S.E.)

Komentar


