TASIKMALAYA, MEDIA - DPR.COM Mengusung semangat mengamalkan amanah Allah SWT sebagaimana termaktub dalam Al-Quran Surat Al-Ma'un serta kepedulian sosial yang tinggi, Persatuan Pemuda Pemudi Kedusunan Leuwipeusing (PPKL), Desa Sariwangi, Kecamatan Sariwangi, kembali menggelar kegiatan rutin tahunan.
Acara yang dilaksanakan pada Selasa, 04 Syawal 1447 H, atau bertepatan dengan masa libur hari raya ini memadukan kegiatan santunan bagi anak yatim piatu dan lansia, serta layanan khitanan massal. Kegiatan ini bukan hal baru, melainkan tradisi yang sudah menginjak pelaksanaan ke-49 sejak pertama kali digulirkan pada tahun 1976.
Lokasi kegiatan berlangsung di halaman Kantor Sekretariat PPKL, yang beralamat di Kampung Leuwipeusing, RT/RW 003/003, Desa Sariwangi. Dalam pelaksanaannya, tercatat sebanyak 40 anak yatim piatu dan 30 lansia atau jompo menerima santunan.
Selain itu, enam anak juga mendapatkan layanan khitanan secara gratis. Yang menarik, sejarah mencatat bahwa tradisi ini pernah satu kali terhenti, yakni pada tahun 1982 saat Gunung Galunggung meletus dan memengaruhi kondisi keamanan serta kehidupan masyarakat di wilayah sekitar. Kini, kegiatan itu kembali hadir sebagai bukti ketangguhan dan kekompakan warga.
Tradisi yang Dijaga Turun-Temurun
Bagi warga Leuwipeusing, kegiatan ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan wujud nyata pengamalan ajaran agama dan nilai gotong royong.
Dalam konsep ini, para pemuda dan pemudi hanya bertindak sebagai pelaksana, sementara semangat dan dukungan mengalir dari seluruh elemen masyarakat.
"Kami di sini hanya menjalankan estafet amanah yang sudah dibangun oleh para pendahulu sejak tahun 1976. Intinya adalah mengamalkan apa yang diperintahkan, termasuk dalam Surat Al-Ma'un yang mengingatkan kita untuk peduli pada sesama, terutama mereka yang membutuhkan seperti anak yatim dan orang tua," ungkap Herman Fathurohman, S.Ag, selaku Ketua Panitia Pelaksana.
Herman menjelaskan, kekuatan kegiatan ini terletak pada partisipasi seluruh warga. Baik mereka yang masih menetap di kampung maupun para perantau yang berada di luar daerah, sama-sama berkontribusi.
Semua elemen bersatu menjadikan kegiatan ini berhasil terlaksana setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan persaudaraan di Kedusunan Leuwipeusing, yang tidak terputus meskipun jarak memisahkan.
Struktur Panitia dan Dukungan Masyarakat
Pelaksanaan kegiatan ke-49 ini diketuai langsung oleh Herman Fathurohman, S.Ag, di bawah naungan kepengurusan PPKL yang dipimpin oleh Dalis Pahlupi.
Susunan kepanitiaan lainnya juga melibatkan putra-putri terbaik daerah, antara lain Yopi Firdaus, S.Hum sebagai Sekretaris, serta Manaf Saefulloh dan Ganjar yang memegang kendali sebagai Bendahara.
Kehadiran tokoh-tokoh muda dengan latar belakang pendidikan dan keahlian beragam diharapkan mampu membawa kegiatan tradisional ini tetap relevan dan berjalan dengan tertib.
Suasana di halaman sekretariat tampak hangat dan penuh kekeluargaan. Warga berdatangan, membantu menata kursi, menyiapkan konsumsi, hingga mengawal kelancaran prosesi khitanan dan pembagian santunan.
Bagi para orang tua yang mendaftarkan anaknya untuk dikhitan, kegiatan ini sangat membantu meringankan beban ekonomi. Begitu juga dengan keluarga penerima santunan yang merasa diperhatikan oleh lingkungannya.
"Kegiatan seperti ini sangat berarti. Selain meringankan biaya, yang paling penting adalah rasa kebersamaan. Kami merasa tidak sendiri karena lingkungan selalu peduli," ujar salah satu orang tua peserta khitanan yang juga warga setempat.
Warisan yang Terus Dijaga
Meski telah berjalan hampir setengah abad, semangat pelaksanaannya tidak luntur. Bahkan, jeda yang pernah terjadi akibat letusan Gunung Galunggung di masa lalu justru menjadi pengingat bahwa kegiatan ini adalah simbol ketahanan komunitas.
Ketika bencana datang, kegiatan bisa berhenti, namun semangat tolong-menolong tetap berjalan. Dan ketika kondisi memungkinkan, tradisi ini kembali digelar sebagai perayaan syukur serta kepedulian.
Hingga sore hari, kegiatan berjalan lancar dan tertib. Para pemuda berharap, tradisi ke-49 ini bisa menjadi jembatan agar nilai-nilai kebaikan terus ditanamkan kepada generasi berikutnya.
Agar kelak, ketika estafet kepemimpinan berpindah tangan, semangat mengamalkan amanah dan rasa sosial ini tetap hidup di hati warga Leuwipeusing, sebagaimana ajaran yang telah diwariskan sejak dahulu.
(Ayi Supriatna)

Komentar

