SUMUT | MEDIA-DPR.COM. Banyak yang mengenal suku Batak dengan hidangan khas yang menggunakan daging babi, seperti babi panggang atau saksang.
Namun, tidak banyak yang tahu bahwa pada awalnya, orang Batak asli tidak mengkonsumsi daging babi maupun anjing.
Praktik makan kedua jenis hewan tersebut mulai masuk dan berkembang seiring berjalannya waktu, berbeda dengan ajaran leluhur yang dijunjung tinggi oleh penganut kepercayaan asli suku Batak, Ugamo Malim atau yang lebih dikenal sebagai Parmalim.
Parmalim merupakan kepercayaan asli yang telah ada sejak berabad-abad yang lalu di tanah Batak, dengan pusat perkembangannya di Huta Tinggi, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara (Sumut).
Ajaran ini mengakui keberadaan Mulajadi Nabolon sebagai Tuhan Yang Maha Esa, yang dipercaya sebagai pencipta alam semesta dan segala isinya.
Sejarah mencatat bahwa perkembangan Parmalim dipimpin pertama kali oleh Raja Nasiakbagi, yang kemudian dilanjutkan oleh Raja Mulia Naipospos.
Kedua tokoh ini tidak hanya membangun pondasi kepercayaan, tetapi juga menetapkan aturan hidup yang erat kaitannya dengan nilai-nilai adat dan kelestarian alam.
Salah satu ajaran utama yang dipegang teguh adalah larangan memakan daging babi dan anjing, yang memiliki makna filosofis mendalam.
Menurut keterangan dari seorang pemuka adat Parmalim di Huta Tinggi, larangan tersebut tidak hanya bersifat ritual semata, tetapi juga terkait dengan pandangan hidup orang Batak asli terhadap hewan.
"Babi dianggap sebagai hewan yang membersihkan kotoran dan memiliki peran dalam menjaga keseimbangan lingkungan di sekitar pemukiman.
Sedangkan anjing dipercaya sebagai penjaga rumah dan sahabat yang setia bagi manusia," jelasnya.
Selain itu, dalam ajaran Parmalim, setiap makhluk hidup memiliki roh yang harus dihormati, sehingga konsumsi daging babi dan anjing dianggap bertentangan dengan nilai-nilai penghormatan terhadap ciptaan Mulajadi Nabolon.
Seiring berjalannya waktu, masuknya berbagai agama dan pengaruh budaya luar menyebabkan perubahan dalam pola makan sebagian masyarakat Batak.
Namun, komunitas Parmalim tetap konsisten dalam memegang teguh ajaran leluhur mereka.
Mereka juga aktif mengedukasi masyarakat luas tentang nilai-nilai budaya asli Batak yang terkait dengan penghormatan terhadap alam dan semua makhluk hidupnya.
"Kita tidak memaksakan keyakinan ini kepada siapapun, tetapi kami berharap masyarakat dapat memahami bahwa di balik larangan tersebut terdapat makna yang dalam tentang kehidupan dan hubungan manusia dengan alam serta Tuhan," ujar seorang pengurus komunitas Parmalim.
Upaya ini diharapkan dapat menjaga kelestarian warisan budaya dan filosofi hidup orang Batak asli, yang menjadi bagian penting dari identitas bangsa Indonesia.
(Ditulis oleh Demak MP Panjaitan Pance Wartawan MEDIA-DPR-COM. sumber Akademik dan Ilmiah. Jurnal Analytica Islamica)

Komentar

