Nasib Anak Yatim Piatu Tukka: Tunggu Berkas Kemensos, Syarat"Harus Nampak Mayat" Bikin Takjub

Iklan Semua Halaman

.

Nasib Anak Yatim Piatu Tukka: Tunggu Berkas Kemensos, Syarat"Harus Nampak Mayat" Bikin Takjub

Staff Redaksi Media DPR Jambi
Sabtu, 09 Mei 2026
Jurnalis MEDIA-DPR.COM, Lisberth Manik S.E., Mewawancarai Sejumlah Korban. Mereka Tinggal di Pondok Hunian Darurat Jum'at (08/05/2026) di Kelurahan Tukka [Gambar: Lisberth Manik S.E]

 

TAPTENG | MEDIA-DPR.COM | Hingga kini, nasib warga korban bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kelurahan Tukka, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) Provinsi Sumatra Utara (Sumut) pada Selasa, 25 November 2025 lalu, masih belum menemukan kejelasan.

 

Jumat (08/05/2026), lebih dari enam bulan pasca peristiwa mencekam itu, Jurnalis MEDIA-DPR.COM, Lisberth Manik S.E., turun langsung ke lokasi dan mewawancarai sejumlah korban. Mereka kini bertempat tinggal di pondok hunian darurat yang dibangun sendiri atas keringat dan usaha keras mereka, tanpa bantuan fasilitas yang memadai.

 

Di antara warga yang ditemui adalah Noverayani Tambunan, Putri Monika Tambunan, dan Johanes Tambunan. Tiga anak ini kini berstatus sebagai yatim piatu pasca diterjang bencana dahsyat tersebut.

 

Kisah Pilu Kehilangan Keluarga

 

Dalam wawancara tersebut, terungkap kisah pilu keluarga besar Tambunan. Ibunda mereka, Diana Helmirianti Sitompul, meninggal dunia tertimpa bencana pada tanggal naas tersebut. Sedangkan Ayah mereka, Adianto Tambunan, diketahui sudah meninggal dunia jauh sebelum bencana terjadi.

 

Selain itu, Nenek mereka, Mawan Boru Panggabean, juga menjadi salah satu korban jiwa. Jasad Nenek Mawan Boru berhasil ditemukan dan diketahui keberadaannya. 


Namun hingga kini, bantuan sosial dari Dinas Sosial belum juga cair dengan alasan berkas administrasi yang masih dalam proses pengurusan dan belum beres.

 

Masih Menanti Kepastian Bantuan

 

Hingga saat ini, ketiga anak yatim piatu ini bersama warga lainnya masih menanti kepastian penyaluran bantuan sosial dari Dinas Sosial Kabupaten Tapteng. 


Informasi yang diterima di lapangan menyebutkan bahwa proses tersebut masih berjalan dan sedang menunggu kelengkapan berkas dari Kementerian Sosial RI yang sebelumnya telah disampaikan oleh pihak Dinas Sosial Tapteng.

 

Namun, ada satu hal yang sangat mengganjal, mengecewakan, dan membuat warga takjub sekaligus sedih. 


Pesan yang disampaikan pihak Dinas Sosial kepada anak-anak yang sudah kehilangan segalanya itu, memiliki persyaratan yang dinilai sangat berat, sulit dipenuhi, dan tidak manusiawi: "Harus nampak mayatnya".

 

"Waduh, ini gawat. Bagaimana mungkin syaratnya seperti itu?" ungkap salah satu korban dengan nada kecewa bercampur sedih.

 

Fakta Lapangan: 8 Korban Hilang Tak Berbekas

 

Padahal, fakta di lapangan bercerita kenyataan yang sangat pahit. Diketahui ada sekitar 8 orang korban bencana di wilayah Tukka yang hingga kini jasadnya tidak pernah ditemukan, hilang tertimbun material longsoran dan terbawa arus deras hingga tak berbekas.

 

Menyikapi hal itu, pihak gereja dan masyarakat setempat telah melaksanakan sakramen atau upacara ibadah layaknya penguburan resmi. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terakhir dan penyerahan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena jasad-jasad tersebut memang sudah tidak mungkin lagi ditemukan.

 

Kondisi ini pun menimbulkan pertanyaan besar dan kekecewaan mendalam di tengah masyarakat: Bagaimana nasib para ahli waris, terutama anak-anak yatim piatu ini, jika bantuan sosial justru terhambat dan bergantung pada syarat keberadaan jasad yang memang sudah hilang ditelan bencana?

 

Berita ini diangkat menjadi sorotan agar penanganan korban bencana di Tapanuli Tengah dapat dilakukan dengan lebih manusiawi, data lebih presisi, dan persyaratan administrasi tidak mempersulit warga yang sudah kehilangan nyawa sanak keluarga, tempat tinggal, dan harta benda.(**).

 

 

close