18 Warga Jabar Terlantar di Papua, 6 di Antaranya dari Pangalengan – Dijanjikan Kerja Proyek Malah Terlantar

Iklan Semua Halaman

.

18 Warga Jabar Terlantar di Papua, 6 di Antaranya dari Pangalengan – Dijanjikan Kerja Proyek Malah Terlantar

Staff Redaksi Media DPR Jambi
Jumat, 17 April 2026




BANDUNG, MEDIA – DPR.COM Kasus penipuan kerja Papua menjadi perhatian publik setelah sedikitnya 18 warga Jawa Barat, termasuk 6 orang dari Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, dilaporkan terlantar di wilayah Papua pada April 2026.


Para korban awalnya dijanjikan pekerjaan sebagai tenaga proyek bangunan, namun setibanya di lokasi justru dialihkan ke perkebunan kelapa sawit tanpa kejelasan. 


Fakta ini terungkap setelah video pengakuan korban viral di grup WhatsApp. Dalam kondisi memprihatinkan, mereka kini bertahan hidup seadanya sambil berharap bisa segera dipulangkan. Bagaimana kisah lengkapnya?


Kasus korban penipuan kerja Bandung ini bermula dari tawaran pekerjaan yang terdengar menjanjikan. 


Para korban mengaku direkrut untuk bekerja di proyek bangunan dengan iming-iming penghasilan yang cukup besar.


Tanpa banyak kecurigaan, mereka berangkat ke Papua dengan harapan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Namun kenyataan yang mereka hadapi justru jauh dari ekspektasi.


Setibanya di lokasi, para korban tidak menemukan proyek bangunan seperti yang dijanjikan. 


Mereka justru diarahkan untuk bekerja di area perkebunan kelapa sawit tanpa kontrak kerja yang jelas.


“Kami diiming-imingi kerja proyek, tapi malah ditelantarkan di kebun sawit,” ungkap salah satu korban dalam video.


Situasi ini membuat para korban terjebak dalam kondisi sulit. Mereka tidak memiliki cukup uang untuk kembali, sementara pekerjaan yang dijanjikan tidak pernah ada.


Video Viral Ungkap Kondisi Memprihatinkan


Kasus warga Pangalengan terlantar di Papua mencuat setelah sebuah video beredar luas. Dalam video tersebut, seorang pria menyampaikan kondisi mereka dengan nada penuh harap.


“Assalamualaikum Kang Dedi, saya warga Jawa Barat, Pangalengan. Saya sekarang di Papua, saya terlantar. Saya tidur di gedung sekolah di daerah Bopul,” ujarnya.


Pengakuan ini langsung menyentuh perhatian publik. Banyak yang merasa haru melihat kondisi para korban yang harus bertahan hidup jauh dari kampung halaman tanpa kepastian.


Lebih mengejutkan lagi, mereka disebut tidak memiliki tempat tinggal layak dan harus menumpang tidur di bangunan sekolah.


Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: bagaimana mereka bisa sampai ke situasi tersebut tanpa pengawasan?


18 Korban Terjebak, 6 di Antaranya Warga Pangalengan


Dalam video tersebut, disebutkan ada sekitar 18 orang warga Jawa Barat yang mengalami nasib serupa. Dari jumlah itu, 6 orang diketahui berasal dari Kecamatan Pangalengan.


Mereka berasal dari beberapa desa, di antaranya Margamulya, Banjarsari, dan Wanasuka. Berikut nama-nama yang telah teridentifikasi:


Asep Hermawan (Desa Margamulya)

Lucki Rustandi (Desa Margamulya)

Iyep Rohman (Desa Banjarsari)

Ahmad Sarip (Desa Banjarsari)

Andi Sopandi (Desa Wanasuka)

Taupik R Adinata (Desa Banjarsari)


Jumlah korban diperkirakan masih bisa bertambah seiring pendataan lebih lanjut. Fakta ini semakin memperkuat dugaan adanya jaringan perekrut yang lebih luas.


Dalam video yang beredar, mereka dijanjikan pekerjaan proyek sebelum akhirnya membawa mereka ke lokasi perkebunan sawit.


Hal ini memicu desakan dari warga dan keluarga korban di Kabupaten Bandung agar pemerintah segera bertindak. Mereka berharap ada langkah cepat untuk menyelamatkan para korban sekaligus mengusut pelaku.


Kasus penipuan kerja Papua ini dinilai harus menjadi perhatian serius, mengingat dampaknya tidak hanya secara ekonomi tetapi juga kemanusiaan.


Harapan Korban: “Kami Hanya Ingin Pulang”


Di tengah kondisi sulit yang mereka alami, para korban hanya memiliki satu harapan: pulang ke kampung halaman.


“Saya minta bantuannya, saya ingin pulang Kang Dedi. Ini semua ada 18 orang, warga Jawa Barat semuanya,” ujar korban dalam video.


Kalimat sederhana ini menjadi pengingat kuat tentang sisi kemanusiaan dalam kasus ini. Banyak pihak berharap pemerintah segera turun tangan sebelum kondisi semakin memburuk.


Kasus warga Pangalengan terlantar di Papua menjadi peringatan keras bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap tawaran pekerjaan, terutama di luar daerah.


Penting untuk memastikan legalitas perusahaan, kejelasan kontrak kerja, serta kredibilitas perekrut sebelum menerima tawaran kerja. Di sisi lain, pemerintah diharapkan meningkatkan pengawasan terhadap praktik perekrutan tenaga kerja.


Kini, perhatian publik tertuju pada langkah pemerintah selanjutnya. Akankah para korban segera dipulangkan dan pelaku ditindak tegas? Waktu yang akan menjawab.***


(GTR/ AS) 

close