TAPTENG | MEDIA-DPR-COM. Dinamika politik di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) Provinsi Sumatra Utara (Sumut), kembali menjadi sorotan tajam publik.
Terlihat sebuah pola yang unik namun ironis, di mana apapun masalah atau persoalan yang terjadi di daerah ini, nama mantan Bupati Tapteng Baktiar Ahmad Sibarani S.H., M.H., selalu dijadikan "kambing hitam" dan pihak yang paling sering disalahkan.
Padahal, sejak masa kepemimpinan Baktiar Ahmad Sibarani berakhir, sudah ada tiga orang yang menjabat sebagai Penjabat (Pj) Bupati, yaitu Yetty Sembiring, S.STP, M.M, Dr. Elfin Elyas Nainggolan, M.Si, dan Dr. H. Sugeng Riyanta S.H., M.H.
Bahkan sebelum era Baktiar, sudah ada sejumlah pemimpin daerah sebelumnya seperti Drs. Tuani Lumban Tobing M.SI., Drs. Bukit Tambunan, M.AP., Raja Bonaran Situmeang S.H., M.Hum., dan Syukran Jamilan Tanjung S.E.
Ironisnya, meski saat ini Tapteng sudah dipimpin oleh Bupati Tapteng Masinton Pasaribu S.H., M.H., jika terdapat kesalahan atau kebijakan yang dinilai kurang tepat, yang tetap disalahkan adalah masa lalu atau Baktiar Ahmad Sibarani.
Selain mantan bupati, Anggota DPRD Tapteng juga sering menjadi sasaran kritik dan tuduhan.
Hal ini diduga kuat merupakan strategi dari kelompok Buzzer pendukung setia Bupati Tapteng saat ini, yang dikenal dengan sebutan TERMAS (Ternak Masinton Pasaribu).
Tidak hanya itu, keberadaan oknum yang disebut sebagai "Wartawan Istana MP" juga menjadi sorotan. Mereka dinilai selalu berusaha melarang masyarakat menyalahkan kebijakan Bupati Tapteng dan meminta agar kepentingan pejabat saat ini tidak dikomentari.
"Bahkan menurut mereka, Masinton Pasaribu ibarat Tuhan mereka. Diduga karena imbalan yang diterima berupa uang hingga mampu membangun kekayaan dan rumah bernilai miliaran rupiah," ungkap sumber.
BANTUAN DAN DEDIKASI BAKTIAR JUSTRU DIFITNAH
Sangat disayangkan, meski memiliki rekam jejak yang baik, Baktiar Ahmad Sibarani justru terus disalahkan.
Bahkan saat terjadi bencana alam banjir bandang dan tanah longsor besar di Tapteng pada November 2025 lalu, ketika Baktiar hadir langsung memberikan bantuan, mendirikan dapur umum, hingga mengerahkan alat berat (excavator) untuk normalisasi wilayah terdampak, tindakan mulia itu justru dijadikan bahan serangan dan fitnah.
Di sisi lain, kelompok Buzer dan TERMAS justru diduga bekerja dengan bebas mengambil alih bantuan, lalu membagikannya seolah-olah itu adalah pemberian dari mereka sendiri.
"Jika kepentingan mereka terganggu, mereka akan menyerang siapapun yang mengkritik secara terstruktur dan masif," tambahnya.
Unik! Aksi AMPM Hari Ini yang Disalahkan Tetap Baktiar
Fenomena ini semakin terlihat jelas hari ini, Senin (20/04/2026). Ketika Aliansi Mahasiswa, Pemuda dan Masyarakat (AMPM) menggelar aksi unjuk rasa menuntut kejelasan bantuan pascabencana ke Kantor DPRD Tapteng, yang justru disalahkan dan dijadikan bahan omongan publik tetaplah Baktiar Ahmad Sibarani.
"Wow Amazing. Pola ini terus berulang: Jika ada masalah, cari kambing hitam pada Baktiar Ahmad Sibarani atau lemparkan kesalahan pada DPRD," pungkasnya.
(Demak MP Panjaitan/Pance)

Komentar


