TUMBAL DI ATAS PANGGUNG AMBISI: ASN Tapteng Dipaksa Jadi Prajurit Politik, Jangan Mau Ditumbalkan!

Iklan Semua Halaman

.

TUMBAL DI ATAS PANGGUNG AMBISI: ASN Tapteng Dipaksa Jadi Prajurit Politik, Jangan Mau Ditumbalkan!

Staff Redaksi Media DPR Jambi
Rabu, 29 April 2026

Foto : Bupati Tapteng Masinton Pasaribu S.H.,M.H. (Gambar / Ceritaa Tapteng TBUP)


TAPTENG | MEDIA-DPR-COM. Sebuah seruan keras dan keprihatinan mendalam disampaikan melalui unggahan di akun Facebook Ceritaa Tapteng dalam grup TAPTENG BERSATU UNTUK PERUBAHAN (TBUP), Selasa (28/04/2026). 


Tulisan berjudul "TUMBAL DIATAS PANGGUNG AMBISI: Abdi Negara Dipaksa Memakai Seragam Prajurit Politik" ini mengungkap dinamika kekuasaan yang dinilai sangat meresahkan dunia birokrasi di Kabupaten Tapanuli Tengah  (Tapteng) Provinsi Sumatra Utara (Sumut).

 

BIROKRASI BERUBAH JADI MEDAN TEMPUR 

 

Disebutkan bahwa di bawah kepemimpinan Bupati Tapteng Masinton Pasaribu S.H.,M.H.,  yang juga menjabat sebagai Ketua DPC PDI-Perjuangan Tapteng, fungsi pemerintahan mulai bergeser. 


Kursi kepemimpinan yang seharusnya untuk mengayomi rakyat, kini berubah menjadi pusat kendali "Politik Perlawanan".

 

"Para Aparatur Sipil Negara (ASN), mulai dari jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Kepala Dinas (Kadis), Camat, hingga Lurah, kini tak lagi sekadar pelayan publik. Mereka dipaksa memakai seragam prajurit politik dengan perintah jelas: lawan siapa pun yang berseberangan," demikian isi tulisan tersebut.

 

KUSAH NYATA: HABIS MANIS SEPAH DIBUANG 

 

Dua kasus nyata disorot sebagai bukti bagaimana ASN dijadikan alat dan kemudian dibuang ketika sudah tidak berguna atau tersandung masalah:

 

01. Kasus Kadis PUPR Tapteng.

Belum genap tiga bulan menjabat, dedikasinya hancur lebur. Pasca penanganan bencana, ia diperintahkan untuk "pasang badan" melawan instruksi Dandrem. Namun, setelah perlawanan dilakukan, justru ia sendiri yang dicopot dari jabatannya tanpa ampun.

 

02. Kasus Camat Kecamatan Tukka

Hal serupa menimpa pemimpin wilayah Tukka. Saat Gubernur Sumatra Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution S.E., M.M., datang membawa empati untuk korban bencana di Hutanabolon, sang Camat justru dipaksa melakukan perlawanan instruksional. Ujungnya pun sama, pencopotan jabatan yang dinilai sewenang-wenang.

 

IRONI: YANG MEMERINTAH DUDUK MANIS, YANG MENJALANI DIHUKUM.

 

Tulisan ini menyoroti ironi yang paling pedih. Sang pemimpin duduk manis di singgasananya, sementara pion-pionnya jatuh satu per satu.

 

"Ketika badai kritik datang atau aturan hukum mulai melirik, beban kesalahan itu tidak akan dipikul oleh sang pemberi perintah. Semua akan ditimpakan ke pundak kalian, para Abdi Negara, yang dianggap 'gagal' atau 'salah prosedur'," tegasnya.

 

Dengan lantang, penulis mengajak seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Tapteng untuk segera sadar dan membuka mata:

 

"INGAT!!! Masinton mungkin hanya bertahta selama lima tahun, namun kalian, para ASN adalah akar yang selamanya akan tertanam di Bumi Tapteng."

 

Beberapa pesan penting diserukan:

01. Jangan Mau Dipecah Belah: Solidaritas korps harus lebih kuat dari intimidasi politik.

02. Lindungi Karier Kalian: Jabatan yang diraih susah payah bisa hilang dalam sekejap hanya karena ambisi orang lain.

03. Ingat Masa Depan: Saat penguasa berganti, rekam jejak kalian sebagai "alat politik" akan tetap membekas selamanya.

 

"Kalian dididik untuk melayani rakyat, bukan untuk menjadi tumbal perlawanan antar-pejabat. Jangan mau lagi ditumbalkan sebelum semuanya terlambat," pungkas seruan tersebut.

 

Ditulis oleh Demak MP Panjaitan/Pance Wartawan MEDIA-DPR.COM.

close