TAPANULI TENGAH | MEDIA-DPR-COM. Sebuah pertanyaan tajam yang diunggah di akun Facebook TAPTENG BERSATU UNTUK PERUBAHAN (TBUP) pada Minggu (26/04/2026) kembali mengusik ingatan publik.
Postingan yang kini ramai dibahas dan dibagikan kembali itu menyoroti nasib kasus dugaan pemukulan terhadap wartawan Marhamadan Tanjung yang pernah terjadi di lingkungan Rumah Dinas Bupati Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) Provinsi Sumatra Utara (Sumut)
"Sudah bagaimana kasus pemukulan di Rumah Dinas Bupati Tapteng Masinton Pasaribu S.H.,M.H , yang memukul Wartawan? Apakah sudah damai? Jadi terlupakan karena Jadup ini." tulis akun tersebut, disertai tagar #sorotan.
Kilas Balik Peristiwa yang Mengguncang Dunia Pers
Perlu diingat, insiden tersebut terjadi pada 29 Januari 2026 lalu. Seorang wartawan media online, diduga menjadi korban pengeroyokan saat sedang menjalankan tugas jurnalistik untuk mengonfirmasi informasi terkait status Rumah Dinas Bupati Tapteng yang digunakan sebagai tempat tinggal Bupati.
Menurut laporan saat itu, korban datang untuk klarifikasi namun justru dihadang, dikejar, dan dipukul secara brutal oleh sekelompok orang di area lokasi tersebut. Korban mengalami luka fisik serius, termasuk luka robek di bibir, memar di wajah dan tubuh, serta sempat dirawat di rumah sakit.
Kejadian ini sempat menuai kecaman luas dari berbagai organisasi pers dan masyarakat, karena dinilai mencederai kebebasan pers dan hak masyarakat untuk tahu. Laporan polisi pun telah dibuat dengan nomor LP/B/37/I/2026/SPKT/POLRES TAPANULI TENGAH/POLDA SUMATERA UTARA.
Pertanyaan Besar yang Menunggu Jawaban
Hingga saat ini, belum ada informasi resmi yang menyatakan apakah kasus tersebut sudah mencapai kesepakatan damai, sudah ditutup, atau justru "terlupakan" seiring berjalannya waktu dan berbagai peristiwa lain yang terjadi.
Pertanyaan yang diajukan oleh akun TBUP ini menjadi cermin keprihatinan publik yang menuntut kepastian hukum dan keadilan.
Apakah kasus ini sudah selesai? Apakah pelaku sudah diproses sesuai hukum? Atau memang benar-benar sudah menjadi sejarah yang terlupakan?
Masyarakat menunggu jawaban yang jelas dan transparan.
(Demak MP Panjaitan/Pance)

Komentar

