Jangan Menzholimi Kader Militan! Tahmar Hutabarat, Pejuang Sejati PDI Perjuangan Barus yang Tak Habis Manis Sepah Dibuang

Iklan Semua Halaman

.

Jangan Menzholimi Kader Militan! Tahmar Hutabarat, Pejuang Sejati PDI Perjuangan Barus yang Tak Habis Manis Sepah Dibuang

Staff Redaksi Media DPR Jambi
Sabtu, 30 Mei 2026

Jangan Menzholimi Kader Militan! Tahmar Hutabarat, Pejuang Sejati PDI Perjuangan Barus yang Tak Habis Manis Sepah Dibuang (Gambar: M. Simamora /.MEDIA-DPR.COM)


TAPTENG | MEDIA-DPR.COM. Suara lantang dan pernyataan keras menggema dari kalangan kader dan simpatisan PDI Perjuangan di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) Provinsi Sumatra Utara (Sumut). 


Polemik pelaksanaan Musyawarah Cabang (Musdancab) yang digelar di Aula Paroki Pangaribuan, Kecamatan Andam Dewi Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) Provinsi Sumatra Utara (Sumut), pada Jumat (29/05/2026) lalu, kini menjadi sorotan tajam dan viral di media sosial. 


Di balik peristiwa itu, muncul sosok Tahmar Hutabarat, yang disebut-sebut sebagai kader terbaik dan paling militan se -Tapteng, namun justru mendapatkan perlakuan yang dinilai tidak adil, seolah-olah "habis manis sepah dibuang".

 

Charles Simajuntak, salah satu rekan seperjuangan yang sangat paham akan sejarah panjang pergerakan partai berlambang Banteng dan bernomor urut 3 ini, mengungkapkan kekaguman sekaligus keprihatinan mendalam atas apa yang dialami Tahmar Hutabarat. 


Menurutnya, apa yang terjadi pada Musdancab, kemarin adalah cerminan perlakuan keliru terhadap sosok pejuang sejati yang puluhan tahun berdarah-darah menghidupkan organisasi di wilayah Kecamatan Barus dan sekitarnya.

 

"Saudara Tahmar Hutabarat adalah pejuang dan kader sejati. Beliau siap dalam segala musim. Dia sosok yang sangat loyal terhadap partai dan selalu berusaha memberikan energi positif. 


Di saat organisasi PDIP di Barus diabaikan karena penguasa daerah berasal dari partai lain, dia tetap bertahan sekuat tenaga agar bendera merah ini tetap berkibar. 


Dia tidak mau menjilat pemerintah demi proyek atau jabatan, dia tetap teguh pada prinsip: kalau kalah ya terima dengan legowo, tapi tetap berbuat baik pada sesama kader," tegas Charles dalam pernyataannya.

 

Terzhalimi: Kader Berdarah-darah Justru Dikesampingkan

Kemarahan dan kekecewaan kader meledak bukan tanpa alasan. Tahmar Hutabarat dikenal sebagai sosok yang tidak mengenal lelah. 


Kata-kata "kaki jadi kepala, kepala jadi kaki" adalah gambaran nyata pengorbanannya selama puluhan tahun membangun dan menjaga keberadaan partai di Barus. 


Beliau adalah tulang punggung, sosok yang mengibarkan bendera partai di tengah sulitnya kondisi politik daerah saat itu.

 

Namun ironi terjadi. Saat Musancab, berlangsung, Tahmar dan rekan-rekan Ketua PAC lainnya dari berbagai kecamatan justru mendapatkan perlakuan yang dinilai terzhalimi. 


Hasil dan proses yang berlangsung di Aula Paroki Pangaribuan itu sama sekali tidak diterima oleh para kader lama dan militan tersebut. 


Mereka merasa DPD PDI Perjuangan Sumut maupun DPC PDI Perjuangan Tapteng, partai bersikap semena-mena, mengabaikan sejarah dan jasa-jasa para pendiri dan penyelamat organisasi ini.

 

"Baru bersuara dan menjelaskan fakta ketika beliau merasa ada perlakuan yang kurang tepat. Dia menjelaskan kepada mereka yang mungkin tidak paham bagaimana perjuangan beliau selama ini. Tindakan Saudara TH ini sudah sangat tepat, agar semuanya terang benderang dan jadi pembelajaran bagi siapa saja yang mencoba merusak solidaritas kader militan," tambah Charles.

 

Teguran Keras: "PDI Perjuangan Sekarang Lupa Kacang pada Kulitnya"

Poin paling tajam dari pernyataan Charles Simajuntak adalah peringatan kerasnya terhadap struktur partai saat ini. Ia menilai, ada kecenderungan PDI Perjuangan di Tapteng mulai melupakan sejarah dan jasa para kader pelopor.

 

"PDI Perjuangan saat ini lupa kacang pada kulitnya. Wajar saya berkata begitu, karena Ketua PAC-lah dulu yang protes dan berjuang keras agar ada pendaftaran ulang calon. Coba ingat sejarah: kalau tidak ada aksi dan perjuangan para Ketua PAC dulu, mungkin Pak Masinton Pasaribu tidak akan jadi Bupati. Mungkin yang jadi justru orang lain dari kelompok berbeda. Mereka lah kuncinya dulu!" seru Charles penuh emosi.

 

Pertanyaan besar diajukan kepada para pemegang kebijakan partai saat ini: "Apakah kalian se tega itu sama mereka? Jangan gara-gara Caleg yang menang punya kelompok atau calon sendiri, lalu kalian semena-mena mengganti, menyingkirkan, atau mengabaikan mereka yang dulunya berjuang mati-matian mendirikan dan menjaga partai ini saat sepi pengikut."

 

Doa dan Harapan: Semoga Partai Semakin Dewasa

Sosok Tahmar Hutabarat disebut sebagai satu-satunya orang yang sanggup menghadapi segala gejolak politik di Barus dengan hati ikhlas dan setia pada ideologi. Beliau tidak mencari pamrih, tidak mencari proyek, tapi mencari keberlangsungan perjuangan.

 

Karena itulah, muncul harapan besar dari seluruh kader yang memahami situasi ini: Jangan pernah menzhalimi kader seperti Tahmar Hutabarat. Karena merugikan kader militan sama saja dengan merusak pondasi rumah sendiri.

 

"Semoga dengan kejadian ini, partai yang sudah baik selama ini akan menjadi semakin dewasa, semakin peka, dan semakin baik dalam menghargai pengorbanan anak buahnya. Saya pun berdoa, semoga Saudara Tahmar Hutabarat selalu diberikan kesehatan, ketabahan hati, dan dimudahkan segala rezekinya. Beliau adalah teladan: kader terbaik, solid, dan setia sampai titik darah penghabisan," pungkas Charles Simajuntak.ysng senada di sampaikan M Simamora.

 

Kisah ini menjadi pesan moral bagi semua organisasi politik: Hargailah kader lama, karena merekalah akar yang membuat pohon ini tetap tegak berdiri dan berbuah lebat. Jangan sampai sejarah berulang, di mana saat manis dinikmati, sepahnya pun dibuang begitu saja.

Ditulis:  Lisberth Manik S.E. MEDIA-DPR.COM.

Editor: Demak MP Panjaitan/Pance


Jangan Menzholimi Kader Militan! Tahmar Hutabarat, Pejuang Sejati PDI Perjuangan Barus yang Tak Habis Manis Sepah Dibuang (Gambar: M. Simamora /.MEDIA-DPR.COM)


 

close