Swadaya Masyarakat Desa Saragih Barat Bangun Jalan Rusak, Terkucilkan: Kami Bekerja Sendiri, Di Mana Perhatian Pemkab Tapteng?

Iklan Semua Halaman

.

Swadaya Masyarakat Desa Saragih Barat Bangun Jalan Rusak, Terkucilkan: Kami Bekerja Sendiri, Di Mana Perhatian Pemkab Tapteng?

Staff Redaksi Media DPR Jambi
Minggu, 31 Mei 2026

Swadaya Masyarakat Desa Saragih Barat Kecamatan Manduamas Tapteng Bangun Jalan Rusak (Gambar: TBUP / MEDIA-DPR.COM)


TAPTENG | MEDIA-DPR.COM.Sebuah kisah keprihatinan sekaligus bukti ketangguhan warga kembali hadir dari pelosok Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) Provinsi Sumatra Utara (Sumut)


Masyarakat Desa Saragih Barat Kecamatan Manduamas Tapteng, mengambil langkah berani dan penuh perjuangan: turun ke jalan dengan kekuatan sendiri, bergotong royong mengerahkan materi dan tenaga untuk memperbaiki akses jalan desa yang rusak parah bertahun-tahun lamanya, namun nyaris tak tersentuh tangan pemerintah.

 

Langkah swadaya ini dilakukan bukan karena warga berlebih kemampuan, melainkan karena jalan tersebut merupakan akses utama penghubung kehidupan mereka, namun selama ini terabaikan dan seolah tidak menjadi prioritas pembangunan. 


Padahal, secara aturan, pembangunan dan perbaikan jalan akses utama merupakan kewenangan mutlak Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Tapteng, yang menjadi tugas pokok Pemerintah Daerah (Pemda) 

 

Pernyataan ini disampaikan melalui gerakan TAPTENG BERSATU UNTUK PERUBAHAN  (TBUP) Sabtu (30/05/2026), yang menyoroti kondisi nyata di lapangan sebagai bentuk aspirasi masyarakat yang merasa terkucilkan dan dibiarkan.

 

"Inilah bukti nyata inisiatif dan partisipasi tinggi masyarakat Desa Saragih Barat. Mereka mengeluarkan biaya sendiri, mengerahkan tenaga sendiri, bahu-membahu memperbaiki jalan yang rusak parah dari dulu sampai sekarang tidak ada tersentuh untuk sebuah pembangunan atau perbaikan. 


Padahal itu akses utama kami, tapi rasanya kami ini terkucilkan, jauh dari perhatian," bunyi pernyataan itu.

 

Dalam kegiatan gotong royong penuh semangat itu, warga menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada Kepala Desa beserta jajarannya, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), para tokoh pemuda, serta seluruh unsur masyarakat yang hadir dan terlibat langsung. 


Kehadiran mereka menjadi satu-satunya harapan agar jalan tersebut sedikit lebih layak dilalui kendaraan warga.

 

Namun di balik rasa syukur atas kerja keras bersama, ada harapan besar yang ditujukan kepada para petinggi di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapteng, hingga ke jajaran Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu). Warga memohon agar mata dan hati pemerintah terbuka melihat kondisi mereka.

 

"Harapan kami masyarakat pun besar untuk para petinggi yang ada di Tapteng ini, baik di tingkat provinsi: Kalau bisa, tolong diperhatikan dulu jalan ke desa kami. Apa yang kami bangun dengan tenaga sendiri ini masih sangat jauh dari kata layak, sebab masih ada banyak ruas jalan yang rusak parah menuju ke desa kami yang belum tersentuh sama sekali," ucap pernyataan itu dengan nada mengharap.

 

Kisah Desa Saragih Barat ini menjadi cermin pahit sekaligus inspirasi: Masyarakat tetap berjuang dan membangun walau harus sendiri, tapi pertanyaan besar tetap menggantung: 


Ke mana perginya anggaran dan kewajiban pelayanan publik yang seharusnya ada untuk seluruh warga Tapteng, tanpa terkecuali?

 

Warga berharap, swadaya ini menjadi teguran keras agar pembangunan tidak hanya berputar di titik-titik tertentu saja, tetapi merata hingga ke desa-desa yang juga bagian dari Tapteng.

(Demak MP Panjaitan/Pance)




 

close