BANDUNG, MEDIA - DPR.COM Diduga makanan basi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Propinsi Jawa Barat.
Memicu penyelidikan aparat setempat setelah keluhan muncul dari kalangan pelajar yang mengatakan aroma tak sedap, tidak mau Mengosumsi dan mengembalikannya Selasa (07/04/2026).
Temuan ini berawal dari laporan adanya menu makanan yang diduga tidak layak konsumsi yang didistribusikan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Citeureup di Jalan Pasigaran, RT 05 RW 09.
Informasi tersebut menguat setelah beredar video di group WhatsApp Warga yang memperlihatkan sejumlah siswa SMPN 1 Dayeuhkolot mengembalikan paket MBG. Dalam rekaman itu, siswa- siswi mengeluhkan aroma makanan yang tidak sedap.
Pendistribusian makanan dilakukan oleh dapur SPPG Citeureup yang dikelola Yayasan Baitul Rizki Barokah.
Sasaran penerima manfaat mencakup sejumlah sekolah, di antaranya SMPN 1 Dayeuhkolot dengan 1.020 penerima, SMP Pertiwi, beberapa SD negeri Leuwibandung, hingga kelompok masyarakat melalui posyandu.
Menindaklanjuti laporan tersebut, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Dayeuhkolot respon cepat melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke dapur SPPG.
Sidak dipimpin langsung Camat Dayeuhkolot, Asep Suryadi, bersama Kapolsek Dayeuhkolot AKP Triyono Raharja, S.I.K., M.H dan Babinsa Koramil 2407 Asep Sopian, Serta Perwakilan Pemerintahan Desa.
Petugas melakukan pemeriksaan terhadap proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan guna memastikan standar kebersihan dan kelayakan terpenuhi.
Kapolsek Dayeuhkolot AKP Triyono menegaskan bahwa pengawasan distribusi makanan akan diperketat guna mencegah kejadian serupa.
“Kami mengingatkan seluruh pihak agar memastikan kualitas makanan sebelum disalurkan. Kejadian seperti ini tidak boleh terulang, dan pengawasan ke depan akan kami tingkatkan,” ujarnya.
Camat Dayeuhkolot menambahkan bahwa program MBG merupakan bagian dari upaya pemenuhan gizi masyarakat, sehingga pelaksanaannya harus memenuhi standar kesehatan yang ketat.
“Ini menyangkut kesehatan anak-anak dan masyarakat. Seluruh proses harus sesuai standar, tidak boleh ada kelalaian,” katanya.
Hingga berita ini tayang , proses klarifikasi dan pendalaman masih berlangsung. Aparat bersama pemerintah setempat menyatakan akan terus melakukan monitoring dan evaluasi guna menjamin kualitas dan keamanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kasus ini menjadi perhatian publik sekaligus menegaskan pentingnya pengawasan ketat dalam pelaksanaan program bantuan pangan, khususnya yang menyasar pelajar dan kelompok rentan.
(DA/AS)

Komentar

