Sorotan Tajam Sekaligus Pesan Mendalam Proses Hukum dan Persidangan Kasus Menjerat Nadiem Makarim Disampaikan Advokat Senior Todung Mulya Lubis.(Gambar: Todung Mulya Lubis / MEDIA-DPR.COM)JAKARTA | MEDIA-DPR.COM. Sorotan tajam sekaligus pesan mendalam mengenai proses hukum dan persidangan kasus yang menjerat Nadiem Makarim disampaikan Advokat Senior Todung Mulya Lubis. Melalui tulisan panjang yang diunggah di akun Facebook pribadinya pada Senin (11/05/2026),
ia membeberkan keresahan, harapan, dan pandangannya sebagai praktisi hukum yang menjunjung tinggi etika dan keadilan.
Di awal tulisannya, Todung Mulya Lubis mengaku selama ini agak menahan diri untuk tidak banyak berkomentar terkait kasus tersebut, semata-mata karena menghormati proses persidangan yang sedang berjalan.
"Sebagai advokat yang 'old school' saya selalu berhati-hati karena ini etika yang sejak dulu saya dapatkan dalam praktek," tulisnya.
Namun, ia menyadari bahwa ekosistem penegakan hukum kini telah berubah total. Media, terutama media sosial, penuh dengan komentar dan opini. Wartawan pun banyak yang menulis berita bukan lagi sebagai informasi fakta, melainkan sudah bercampur pendapat atau bersifat opinionated.
Di sisi lain, ia juga menyoroti bahwa Majelis Hakim dinilai belum sepenuhnya menjaga prinsip equality in arms, keseimbangan hak antara Penuntut Umum dan Pembela Terdakwa, hingga timbul laporan dari pihak pembela ke Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial.
Harapan Agar Hakim Lihat Fakta dengan Jernih
Todung Mulya Lubis berharap majelis hakim dapat melihat seluruh fakta dengan pandangan yang jernih, mempertimbangkan setiap kesaksian dan keterangan ahli dengan jujur, bijaksana, dan objektif. Ia meyakini kebenaran dan keadilan pasti akan ditemukan.
Menurutnya, publik sudah mengetahui apa yang terjadi di dalam ruang sidang, dan akal sehat masyarakatlah yang menjadi penilai apakah tuduhan dan tuntutan yang disampaikan sudah sesuai dengan fakta atau belum.
Terkait substansi kasus, ia menegaskan keyakinannya: "Saya yakin bahwa tak ada bukti-bukti yang 'beyond any reasonable doubt' (melewati segala keraguan) mengatakan telah terjadi self-enrichment (pengayaan diri)."
Ia pun mengingatkan agar hukum tidak dijadikan senjata untuk mengkriminalisasi seseorang, serta berharap tidak ada dendam pribadi (personal vendeta) yang menggiring arah proses hukum ini.
Di Tangan Hakimlah Keadilan Dititipkan
Poin paling sentral dalam tulisan ini adalah pesan kepada majelis hakim. Todung menegaskan, meski penuntut bertugas menuntut dan pembela bertugas membela, keduanya berdasarkan bacaan hukum dan bukti masing-masing, namun yang berhak menilai dan memutus hanyalah majelis hakim.
"Tapi putusan ada pada yang memegang palu. Yang memegang palu punya kebijaksanaan dan rasa keadilan, karena setiap putusan itu dibuat dengan irah-irah: Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa," tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa kini majelis hakimlah yang berada di panggung publik dan menjadi sorotan utama. Karena di tangan merekalah nilai keadilan itu dititipkan oleh negara dan rakyat.
Pesan Singkat Untuk Nadiem Makarim
Di akhir tulisan, Todung Mulya Lubis menceritakan momen pertemuannya dengan Nadiem Makarim saat menghadiri salah satu persidangan beberapa minggu lalu. Saat itu, ia hanya berpesan tiga hal penting kepadanya:
"Stay healthy, stay strong and stay optimistic. Justice will prevail." (Tetap sehat, tetap tegar, dan tetap optimis. Keadilan pasti akan menang.)
Pesan ini menjadi penutup yang sarat makna, mengingatkan semua pihak bahwa di atas segalanya, kebenaran dan keadilan pasti akan terwujud.(Red)

Komentar
