TAPTENG | MEDIA-DPR COM. Sebuah kisah perjuangan nyata yang mengungkap sejarah panjang dihadirkannya aliran listrik ke Desa Satahi Nauli, Kecamatan Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) Provinsi Sumatra Utara (Sumut), kembali menggema dan viral luas.
Cerita lengkap ini diunggah oleh Konten Kreator Try Supriadi di akun Facebook-nya pada Senin (11/05/2026), yang menjadi saksi mata sekaligus penggerak utama agar suara warga desa yang 80 tahun hidup dalam kegelapan akhirnya terdengar hingga ke pusat.
Dalam tulisan panjangnya yang penuh emosi dan fakta ini, Try Supriadi membeberkan kronologi kejadian dari awal hingga akhir, sekaligus meluruskan siapa saja sosok yang sebenarnya berjuang dari nol, jauh sebelum momen peresmian dilakukan oleh Bupati Tapteng Masinton Pasaribu S.H., M.H
Bapak Bunga Siahaan, Suara Yang Berteriak 80 Tahun
Di awal ceritanya, Try memperkenalkan sosok sentral: Bapak Siahaan, yang akrab disapa Bapak Bunga Siahaan. Dialah warga asli desa itu yang pertama kali berteriak lantang kepada dunia bahwa desanya belum dialiri listrik sama sekali, padahal Indonesia sudah merdeka selama 80 tahun lamanya.
Kisah ini bermula pasca bencana dahsyat 25 November 2025. Tepat pada 14 Desember 2025, Try Supriadi diajak oleh Anggota DPRD Tapteng, Josua Pasaribu, berkunjung ke desa tersebut untuk membagikan bantuan bahan pangan.
Bantuan tersebut merupakan sumbangan dari Bakhtiar Ahmad Sibarani S.H , M.H., Anggota DPRD Provinsi Sumatra Utara (Sumut), Rahmansyah Sibarani S.H., M.H., serta dari pribadi Anggota DPRD Tapteng Josua Pasaribu sendiri.
Dalam perjalanan itu, Josua Pasaribu memerintahkan pengemudinya berhenti di toko dan membeli tiga hingga empat unit genset, disesuaikan dengan jumlah dusun yang ada di desa itu, mengingat saat itu belum ada aliran listrik masuk.
Fakta: Ahmad Rivai Sudah Lama Usulkan, Josua Buka Jalan Pakai Dana Pribadi
Saat itu Try sempat bertanya heran: "Apakah masih ada tempat yang belum dialiri aliran listrik? Apakah selama ini tidak ada pejabat yang mengusulkan pembangunan listrik di desa itu?"
Josua Pasaribu menjawab dengan nada lemas namun jujur: "Sebenarnya, Ketua DPRD Tapteng Ahmad Rivai Sibarani sudah lama mengusulkan pembangunan listrik ini ke PLN, tapi sampai saat ini tidak terealisasi."
Perjalanan menuju lokasi pun penuh tantangan. Try kembali terkejut saat Josua bertanya: "Berapa kami siapkan perahu Pak? Nanti kita akan naik perahu ke desa itu. Tahu kau berenang? Gak takut kau kan?"
Ditanya kenapa tidak lewat jalan darat, Josua ungkapkan fakta besar yang jarang diketahui publik: "Sebenarnya sebelum bencana, jalan ke desa ini sudah saya buka pakai dana pribadi, tapi karena bencana dan longsor, jalan kembali tertutup."
Sesampainya di Jembatan Kolang, mereka sudah disambut warga. Di sana Bapak Bunga Siahaan menyuguhkan durian dengan ramah, namun di balik keramahan itu tersimpan kesedihan mendalam yang tertahan puluhan tahun.
Mereka pun meneruskan perjalanan naik perahu, diterjang hujan dan arus sungai deras demi mencapai desa yang terpencil itu.
Video Viral, Dapat Nomor Direktur PLN Lewat DM
Saat tiba di Desa Satahi Nauli, Bapak Siahaan menceritakan segala penderitaan dan harapan warga dengan berurai air mata. Melihat kenyataan pahit itu, Try Supriadi berinisiatif merekam video ungkapan hati warga, lalu meminta izin untuk mengunggahnya agar viral dan mendapat respon dari Pemerintah Pusat.
Benar saja, video itu menyebar luas di Facebook, Instagram, hingga TikTok, dan langsung disambut respon positif dari PT PLN Indonesia Power. Tidak berhenti di situ, Try kembali diajak warga membuat video kedua yang juga ikut viral.
Puncak keberhasilan itu datang lewat pesan langsung (DM) di Instagram. Seseorang mengirimkan nomor kontak Direktur PT PLN Indonesia Power. Tanpa pikir panjang, Try langsung mengirim pesan WhatsApp berisi permohonan agar Desa Satahi Nauli diperhatikan dan dibangunkan jaringan listriknya.
Tidak lama berselang, kabar gembira datang dari Ketua DPRD Tapteng Ahmad Rivai Sibarani: pembangunan akan segera dilaksanakan. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh Josua Pasaribu, yang kemudian mengajak Try mendampingi tim PLN UP3 Sibolga dan Kepala PLN Barus mengecek lokasi pembangunan.
Kalimat Penutup: "Kami Jadi Penonton"
Singkat cerita, setelah proses panjang dan perjuangan keras rakyat, wakil rakyat, dan konten kreator yang mengangkat suara itu, akhirnya tiang listrik berdiri, kabel terpasang, dan desa yang 80 tahun gelap kini terang benderang.
Hingga tibalah momen peresmian yang dilakukan langsung oleh Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu. Di akhir tulisannya, Try Supriadi menutup dengan kalimat yang sederhana namun menusuk dan menjadi inti dari seluruh kisah ini:
*"Singkat kata, singkat cerita.. Pembangunan listrik sudah terlaksana, listrik sudah mengaliri Desa Satahi Nauli, Bupati Tapteng Masinton Pasaribu meresmikan, *kami jadi penonton.
Unggahan ini menjadi bukti sejarah yang tak terhapuskan: di balik kemegahan sebuah peresmian, ada suara rakyat yang berteriak, ada pengorbanan diam-diam wakil rakyat, dan ada peran media warga yang menyuarakan kebenaran.
Ditulis oleh Demak MP Panjaitan/Pance MEDIA-DPR.COM.

Komentar

