Dugaan Keras Kander Manalu: Boy Simamora Ditusuk dan Dianiaya di Dalam Air, Jenazah Dibuang ke Hilir Agar Seolah Dimangsa Buaya.

Iklan Semua Halaman

.

Dugaan Keras Kander Manalu: Boy Simamora Ditusuk dan Dianiaya di Dalam Air, Jenazah Dibuang ke Hilir Agar Seolah Dimangsa Buaya.

Staff Redaksi Media DPR Jambi
Jumat, 05 Juni 2026

Opini Medis Dipertanyakan: Apakah Reputasi Dipertaruhkan untuk Tutupi Jejak Kejahatan?

Dugaan Keras Kander Manalu: Boy Simamora Ditusuk dan Dianiaya di Dalam Air, Jenazah Dibuang ke Hilir Agar Seolah Dimangsa Buaya Opini Medis Dipertanyakan: Apakah Reputasi Dipertaruhkan untuk Tutupi Jejak Kejahatan?


TAPTENG | MEDIA-DPR.COM.  Misteri kematian Boy Simamora (BS, 20 tahun) yang sempat diberitakan meninggal karena serangan buaya di Sungai Saga Matua, Kecamatan Sirandorung, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) Provinsi Sumatra Utara (Sumut), semakin terang benderang dengan munculnya analisa tajam dan kronologi rinci yang disampaikan Kander Manalu kepada MEDIA-DPR.COM, Kamis (04/06/2026).

 

Di tengah berkembangnya narasi yang menyebutkan korban meninggal bukan akibat penganiayaan dan masih bernapas saat masuk ke air, Kander Manalu melontarkan pertanyaan besar sekaligus kecurigaan mendalam: "Sepertinya ada pihak dokter yang siap mempertaruhkan reputasinya dengan memberikan opini demikian. Apakah ini fakta medis atau sekadar pendapat untuk membebaskan pihak lain?"

 

Berdasarkan penelusuran keterangan saksi dan kronologi kejadian, Kander Manalu memaparkan fakta yang mematahkan narasi tersebut, sekaligus membongkar dugaan skenario kejahatan yang disusun rapi agar tampak seperti kecelakaan alami.

 

Kronologi: Dikejar Security hingga ke Tepi Sungai

Berdasarkan keterangan teman korban yang berangkat bersama, diketahui Boy Simamora keluar dari rumah dan pergi bersama kawan-kawannya menuju lokasi kebun kelapa sawit milik PT. NS. 


Niat awal mereka hendak mengambil buah sawit, namun tiba-tiba mereka didatangi dan dikejar oleh petugas keamanan (Security) perusahaan.

 

Ketakutan melanda, mereka pun berlarian menyelamatkan diri dan mencari jalan masing-masing. Di momen krusial itu, salah satu teman korban memberikan kesaksian penting: "Saya mendengar jelas ada suara jatuh ke dalam air."

 

Dari poin inilah, Kander Manalu menarik kesimpulan yang sangat kuat: "Artinya, Boy Simamora dikejar terus hingga ke pinggiran sungai. Ia tidak jatuh sendiri, melainkan didesak dan terus diteruskan pengejaran hingga akhirnya masuk atau terpaksa masuk ke dalam air karena tidak ada jalan lain."

 

Dugaan Mengerikan: Penusukan di Dalam Air, Luka dan Darah Hilang Tercampur Arus

Analisa yang disampaikan Kander Manalu ini menjadi sorotan utama publik karena sangat masuk akal dan menjawab semua kejanggalan yang ada, termasuk mengapa tidak ditemukan setetes pun darah di daratan atau pinggir sungai saat warga melakukan penyisiran.

 

"Kuat dugaan, di dalam air itulah kejadian sesungguhnya terjadi. Di sana, Boy Simamora diduga mengalami penganiayaan hebat. Diduga lehernya ditusuk terlebih dahulu dengan sengaja agar ia tidak bisa berteriak, tidak bisa meminta tolong, dan suaranya tak terdengar siapa pun. Di tempat yang sama itu juga, tubuhnya dilukai atau disakiti lebih lanjut," papar Kander Manalu.

 

Menurutnya, inilah alasan logis mengapa di daratan tidak ditemukan bercak darah sedikit pun. "Semua pendarahan terjadi di dalam air, langsung terbawa arus dan larut, sehingga jejak darah lenyap begitu saja," jelasnya.

 

Skenario Menghilangkan Jejak: Jenazah Dibuang ke Hilir Agar Disangka Dimangsa Buaya

Poin yang paling mencengangkan dan mengerikan dari analisa ini adalah dugaan adanya rekayasa akhir yang sangat sistematis. Tindakan kekerasan itu, menurut Kander Manalu, bukan berhenti di situ saja.

 

"Setelah korban tak berdaya dan meninggal, jenazahnya diduga diangkut atau ditarik, lalu dibuang jauh ke arah hilir sungai. Tujuannya satu-satunya: menghilangkan jejak kejahatan dan merekayasa keadaan agar publik dan aparat berpikir korban terseret arus, dimakan buaya, dan meninggal karena serangan hewan buas."

 

Keluarga Simamora Boru Bere Beri Tanggapan

Terkait analisa dan fakta yang dibongkar ini, pihak keluarga besar Simamora Boru Bere juga telah memberikan tanggapan dan sikap resmi mereka. 


Keluarga menyambut baik pengungkapan fakta ini dan mendukung penuh penelusuran lebih lanjut demi kebenaran. 


Bagi keluarga, kejanggalan yang ada pada jenazah Boy Simamora sejak awal sudah menjadi pertanyaan besar, dan kini analisa ini semakin menguatkan keyakinan mereka bahwa ada tangan manusia di balik kematian putra mereka.

 

Pertanyaan Keras untuk Publik dan Penegak Hukum

Melalui MEDIA-DPR.COM, Kander Manalu menegaskan bahwa opini yang menyebut "korban tidak dianiaya dan masih bernapas saat masuk air" sangat bertentangan dengan fakta luka fisik dan kronologi pengejaran.

 

"Apakah mungkin seseorang yang masih bernapas dan hidup sehat bisa diam saja dikejar lalu masuk air tanpa perlawanan, lalu ditemukan dengan luka tusuk di leher? Apakah buaya yang menusuk leher dari jarak dekat lalu melukai bagian tubuh lain tapi tak ada jejak darah di darat? Ini semua rekayasa," tegasnya.

 

Kasus Boy Simamora kini bukan lagi sekadar berita duka, melainkan bukti dugaan kejahatan berat yang berusaha ditutupi dengan narasi alami. 


Masyarakat Tapteng, menuntut penegak hukum untuk menelusuri jejak pengejaran, memeriksa petugas keamanan PT. NS, dan memastikan hasil pemeriksaan medis murni berdasarkan kebenaran ilmiah, bukan kepentingan pihak tertentu.

 

Publik menagih janji: Siapa yang mengejar? Siapa yang menusuk? Dan siapa yang menyusun skenario ini? Semua harus bertanggung jawab di meja hijau.


Demak MP Panjaitan/Pance


Opini Medis Dipertanyakan: Apakah Reputasi Dipertaruhkan untuk Tutupi Jejak Kejahatan?









close