Tindak Lanjut Rakor Kabupaten, Camat Pangalengan Gelar Rakorsus Bahas Banjir, Kekeringan, dan Persampahan

Iklan Semua Halaman

.

Tindak Lanjut Rakor Kabupaten, Camat Pangalengan Gelar Rakorsus Bahas Banjir, Kekeringan, dan Persampahan

Staff Redaksi Media DPR Jambi
Kamis, 11 Juni 2026

 



KABUPATEN BANDUNG, MEDIA – DPR.COM Pemerintah Kecamatan Pangalengan segera menindaklanjuti arahan Pemkab Bandung terkait penanganan banjir, kekeringan, dan pengelolaan sampah melalui Rapat Koordinasi Khusus (Rakorsus) pada Kamis (11/06/2026) yang bertempat di gedung serba guna Kecamatan Pangalengan.


Acara ini melibatkan berbagai pihak untuk memperkuat langkah mitigasi potensi bencana dan permasalahan lingkungan.

 

Camat Pangalengan Vena Andriawan, S.STP, M.Si. menjelaskan bahwa Rakorsus ( Rapat Kordinasi Khusus) ini merupakan tindak lanjut dari rapat tingkat kabupaten, dengan fokus pembahasan antisipasi banjir, kekeringan musim kemarau, dan pengelolaan sampah.


 Karena permasalahan tidak bisa diselesaikan sendiri, sesuai arahan dari Bupati Bandung, penanganannya menggunakan pendekatan pentahelix di antaranya melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat," ujarnya.

 

Dalam Rakorsus, pihak kecamatan mengundang seluruh Kades, Puskesmas, Sekolah, PKK, serta stakeholder seperti PTPN, Perhutani, Indonesia Power, dan Star Energy.


Setiap desa melaporkan potensi banjir, ancaman kekeringan, dan sistem pengelolaan sampah, yang datanya direkap untuk penyusunan langkah mitigasi. 


OPD seperti Bapperida, Dinas LH, dan instansi teknis juga turut membantu memetakan kebutuhan dan prioritas penanganan.



Berdasarkan prediksi cuaca, puncak musim kemarau diperkirakan pada Agustus–Oktober 2026, dengan curah hujan sangat minim mulai Juli.

 


 Desa Margamulya menjadi fokus perhatian – dari 24 RW yang ada, 22 RW berpotensi mengalami krisis air bersih jika tidak ada langkah antisipasi dini. 


"Kalau tidak dipersiapkan sekarang, akan lebih sulit ketika puncak kemarau tiba," kata Vena.

 

Untuk banjir, titik rawan teridentifikasi di wilayah Desa Pangalengan, Langbong, Cisurili, dan Desa Banjarasri dengan upaya penanganan meliputi normalisasi sungai, penanaman pohon di hulu, dan sosialisasi lingkungan. 


Di sektor sampah, kecamatan dorong pengurangan dari sumbernya melalui program tumbler, pemilahan sampah, pemanfaatan sampah bernilai ekonomi, serta penerapan Loseda yang telah dilakukan di RW 19 Desa Margamulya dan RW 7 Desa Margamekar.

 

Pihak kecamatan juga mendorong perusahaan agar program CSR selaras dengan kebutuhan masyarakat. "CSR harus menjawab persoalan desa – kalau butuh air bersih atau penanganan sampah, programnya diarahkan ke sana," jelasnya Vena.

 

Dalam pembahasan sumber daya air, pentingnya menjaga kawasan hulu seperti Situ Cileunca dan Waduk Cipanunjang ditegaskan, mengingat sedimentasi akibat pertanian dapat mengurangi kapasitas tampung air dan meningkatkan risiko bencana.


Pemerintah juga menyambut upaya rekayasa cuaca jika diperlukan.

 

Sebagai kecamatan terluas di Kabupaten Bandung (sekitar 27 ribu hektare), Pangalengan menghadapi tantangan kompleks dalam pelayanan publik dan lingkungan.


Camat mengimbau kepada masyarakat untuk turut berpartisipasi menjaga lingkungan dan menghemat air.


 "Pekan depan kami akan mulai langkah konkret seperti penanaman pohon, normalisasi sungai, dan sosialisasi agar masyarakat siap menghadapi musim hujan maupun kemarau," pungkasnya di akhir pembicaraan. 


(Der/AS)

close