TAPTENG | MEDIA-DPR.COM. Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) Provinsi Sumatra Utara (Sumut) Jargon "Tapteng Naik Kelas" yang menjadi tujuan pembangunan Tapteng kini menghadapi tantangan dari dinamika politik yang dipermainkan oknum.
Dua tokoh kunci yang pernah menjabat sebagai Bupati, Masinton Pasaribu S.H., M.H., (periode saat ini) dan Baktiar Ahmad Sibarani S.H., M.H., (periode 2017-2022), diketahui memiliki potensi besar untuk bersatu membangun daerah, namun hingga saat ini masih terdapat upaya untuk memicu permusuhan antara keduanya.
Sebelum menjabat Bupati Tapteng Masinton pernah menjadi Anggota DPR-RI, sedangkan Baktiar Ahmad Sibarani pernah menjabat Ketua DPRD Tapteng dan kini sebagai pengurus Partai NasDem Provinsi Aceh serta Sumut
Pasca Pilkada Tapteng, terasa adanya ketegangan politik yang diperparah oleh pihak-pihak yang mencari keuntungan dengan cara melakukan berbagai permainan.
Di awal kepemimpinan Masinton, Kantor Bupati Tapteng, pernah mengalami gangguan hingga mangkrak, dan Rumah dinas Bupati Tapteng yang pernah ditempati Baktiar juga tidak dapat ditempati oleh Masinton.
Saat bencana alam banjir bandang dan tanah longsor melanda Tapteng, kedua tokoh ini sama-sama turun tangan membantu masyarakat.
Masinton fokus menangani penanganan bencana dan mengamankan rakyat terdampak, sementara Baktiar dengan biaya pribadi membuka dapur umum, memberikan sembako, serta menyediakan alat berat untuk normalisasi wilayah.
Namun, upaya oknum untuk memecah belah terus berlanjut. Contohnya, saat Presiden RI Prabowo Subianto mengunjungi Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) pada Desember 2025 dan Masinton berusaha mendekatkan diri untuk menyampaikan permasalahan pasca bencana Tapteng, foto pertemuan tersebut di-posting dengan tulisan yang menghasut.
Begitu juga dengan foto Masinton bersama Plt. Camat Barus Sanggam Panggabean yang disematkan komentar yang coba memecah belah.
Pada kenyataannya, kondisi di Kecamatan Barus tidak sesuai dengan klaim 90% normal pasca bencana.
Masyarakat bahkan menuntut perhatian Pemerintah Daerah dan Kecamatan, hingga kehadiran Masinton sempat ditolak oleh warga.
Pertanyaan besar kini muncul: "Bagaimana kedua Putra Tapteng ini bisa bersatu untuk membangun daerah tanpa diganggu oleh oknum yang hanya mencari keuntungan dari politik?
Apakah Anda ingin membantu mengajak pihak terkait untuk melakukan dialog terbuka antara Masinton dan Baktiar, atau ingin menyusun usulan untuk menangkap dan menindak oknum yang mempermainkan. (Demak MP Panjaitan/Pance).

Komentar

