Sate Taman Bunga Sibolga: Rasa Tetap Sama, Tetapi Semua Ada Masanya. Senin (29/062026) / MEDIA-DPR.COM.
SIBOLGA | MEDIA-DPR.COM. Bagi sebagian warga Kota Sibolga Provinsi Sumatra Utara (Sumut), nama Sate Taman Bunga Nauli bukan sekadar tempat makan, melainkan bagian dari perjalanan waktu dan kenangan yang tak tergantikan.
Seperti yang diceritakan oleh Kennedy Siallagan, kunjungannya baru-baru ini ke tempat itu membawanya kembali ke masa puluhan tahun silam, sekaligus menyadarkan satu kenyataan hidup: semua ada masanya.Pengalaman dan Kenangan Kennedy Siallagan Senin (29/06/2026)
RASA YANG TETAP TERJAGA SEJAK 1985
“Saya kali pertama diajak Tulang saya ke sini pada tahun 1985, waktu itu untuk sarapan pagi sambil menikmati sate. Hingga hari ini, rasanya tetap sama persis seperti yang saya ingat puluhan tahun lalu,” kenang Kennedy.
Yang juga tetap terjaga adalah cara penyajiannya: lontong sate masih dibungkus dengan daun kelapa, mirip bentuk ketupat, berbeda dengan tempat lain yang kini banyak menggunakan plastik. Di kedai ini juga tersedia berbagai jenis kue, teh, dan kopi yang rasanya tetap istimewa.
DARI HARUS ANTRI HINGGA SEPI PENGUNJUNG
Dulu, suasana di kedai ini selalu ramai. Bahkan, untuk bisa mendapatkan tempat duduk dan menikmati secangkir kopi, pengunjung harus rela mengantri.
Namun ketika Kennedy datang bersama keluarganya pada hari libur baru-baru ini, kondisinya terasa sangat berbeda.
“Hanya kami berdua yang membeli sate, dan tidak ada satu pun pengunjung yang minum kopi. Saya sempat bertanya kepada pemiliknya: ‘Dulu kan harus antri kalau ke sini?’ Ia hanya menjawab, ‘Iya Pak, dulu memang ramai sekali. Tapi ya begitulah, ada masanya,’” tuturnya.
Dari perbincangan itulah muncul satu kalimat yang menjadi kesimpulan mendalam: “Semua ada masanya.”
LEBIH DARI SEKEDAR TEMPAT MAKAN
Bagi Kennedy dan banyak warga lama Kota Sibolga, Sate Taman Bunga bukan hanya soal rasa makanan, melainkan tempat yang menyimpan cerita, kebersamaan, dan jejak perjalanan hidup.
Meskipun jumlah pengunjung kini berkurang, keaslian rasa dan cara tradisional yang dipertahankan tetap menjadi daya tarik dan nilai tersendiri.
Sebagai penutup, ia menyampaikan salam dari HKBP Adian Galasan Raso, mengingatkan bahwa meski waktu terus berjalan dan keadaan berubah, kenangan dan nilai yang baik akan tetap hidup dalam ingatan.
Ditulis oleh Demak MP Panjaitan/Pance

Komentar

