Dua Wajah Aksi 27 Agustus: Mas Botok Dapat Janji DPR-RI Lalu Pulang, Tapi Ojol dan Warga Jakarta Merasa Dikhianati: "Kalian Cair, Kalian Pulang, Kami Ditinggal" Ultimatum 24 Jam Minta Maaf.

Iklan Semua Halaman

.

Dua Wajah Aksi 27 Agustus: Mas Botok Dapat Janji DPR-RI Lalu Pulang, Tapi Ojol dan Warga Jakarta Merasa Dikhianati: "Kalian Cair, Kalian Pulang, Kami Ditinggal" Ultimatum 24 Jam Minta Maaf.

Staff Redaksi Media DPR Jambi
Jumat, 28 Agustus 2026

Dua Wajah Aksi 27 Agustus: Mas Botok Dapat Janji DPR-RI Lalu Pulang, Tapi Ojol dan Warga Jakarta Merasa Dikhianati: "Kalian Cair, Kalian Pulang, Kami Ditinggal" Ultimatum 24 Jam Minta Maaf. Kamis (27/08/2026) / MEDIA+DPR.COM. 


JAKARTA | MEDIA-DPR.COM. Aksi 27 Agustus 2026 di depan Gedung DPR-RI berakhir dengan dua cerita yang sangat berbeda. Satu pihak merasa menang dan pulang dengan janji tertulis. Pihak lain merasa ditinggal, dimanfaatkan, dan dikhianati.

 

BABAK PERTAMA: MAS BOTOK MASUK PARIPURNA, DAPAT KOMITMEN DPR-RI 

Kamis, 27 Agustus 2026, sekitar pukul 10.05 WIB, Supriyono alias Mas Botok, Koordinator AMPB, secara resmi hadir di balkon Rapat Paripurna DPR RI atas undangan langsung Pimpinan DPR. Dua tuntutan utama disampaikan:

 

01. Segera sahkan RUU Perampasan Aset, kembalikan aset koruptor ke negara

02. Hukuman mati bagi koruptor berat yang merugikan rakyat besar-besaran

 

Pimpinan DPR-RI menandatangani komitmen tertulis: RUU Perampasan Aset akan disahkan paling lambat 15 Desember 2026. Jika tidak, mereka siap mundur. Sekitar pukul 12.30 WIB, rombongan AMPB dari Pati membubarkan diri dan pulang dengan membawa surat komitmen tersebut.

 

BABAK KEDUA: WARGA JAKARTA, OJOL DAN MAHASISWA MERASA DIKHIANATI

Di saat yang sama, kelompok mahasiswa, buruh, warga Jakarta, dan para driver ojek online yang telah membantu sejak awal baru saja tiba atau masih bertahan. Mereka belum mendapatkan apa-apa, namun AMPB sudah pulang tanpa pamit, tanpa ucapan terima kasih, tanpa koordinasi.


MELVA PARDEDE (Perwakilan Ojol): "KAMI MERASA DIBERAKIN!"

"Saudaraku Pati, kami warga Jakarta merasa diberakin oleh kalian. Kalian main pulang saja setelah dari dalam. Hasilnya Zonk! Hukuman mati tiba-tiba hilang! Lihat muka saya sampai hitam, dilarang sama keluarga demi mengawal saudara-saudara. Tapi apa hasilnya? Zonk!"

 

Para driver ojol telah membantu mengawal rombongan, mengamankan saat Botok nyaris dicegat polisi, menggalang donasi, dan bertahan sejak pagi, bahkan sejak hari sebelumnya. Tidak ada ucapan terima kasih, tidak ada pamit, tidak ada pembagian hasil.

 

KEPUTUSAN SEPIHAK DAN TUNTUTAN HUKUMAN MATI HILANG

Melva menuduh keputusan dibuat sepihak tanpa koordinasi dengan elemen lain. Tuntutan hukuman mati yang dibawa sejak awal tiba-tiba hilang dari hasil kesepakatan. Bahkan muncul dugaan ada kesepakatan di balik pintu tertutup: "Kalian sudah cair, kalian pulang. Hanya karena rupiah kalian tinggalkan kami di sini."

 

ULTIMATUM 24 JAM: MINTA MAAF ATAU JANGAN KEMBALI

Para driver ojol memberi batas waktu tegas: "1x24 Jam Minta Maaf, atau Jangan Harap Menginjak Jakarta Lagi!"

 

Jika sampai batas waktu tidak ada permintaan maaf, mereka mengancam akan mengusir rombongan AMPB jika kembali pada 15 Desember nanti. "Kalau kalian datang lagi karena belum disahkan RUU itu, jangan menginjak lagi Jakarta."

 

ARI POTRET (Ojol Lain): BOTOK ADALAH PROVOKATOR

"Harapan kami itu semuanya tuh hari ini disahkan. Itu ternyata si Botok dari Pati itu tidak ada kejelasan. Dia kan mau gembar-gembor 'ayo kita bersatu', ternyata dia pulang jam 12."

 

REFLEKSI: SATU AKSI, DUA REALITA

Aksi berakhir damai secara fisik, namun secara kepercayaan terjadi retakan yang dalam. AMPB pulang membawa janji tertulis. Mereka tidak menuntut uang, mereka menuntut penghargaan, solidaritas, dan kesetaraan. Yang mereka dapat justru kepergian tanpa pamit.

 

Rakyat menuntut perampasan aset koruptor, tetapi jangan sampai solidaritas antar warga justru yang dirampas di tengah jalan.

 

Sekarang mata rakyat tertuju kepada dua hal: Apakah DPR benar-benar menepati janji sebelum 15 Desember? Dan apakah AMPB mampu menjawab tuntutan rekonsiliasi dari warga Jakarta sebelum kembali ke sini? (Red).





 


 

 

close