BANDUNG, MEDIA – DPR.COM Kondisi Sekolah Dasar Negeri (SDN) PLTA Lamajan yang berlokasi di RW 08 Kampung Rancagadog, Desa Tribaktimulya, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, semakin memprihatinkan.
Selain menghadapi penurunan jumlah peserta didik baru yang cukup signifikan, sekolah yang telah berdiri puluhan tahun juga harus berjuang melawan kerusakan sarana dan prasarana yang membutuhkan penanganan segera.
Berdasarkan data yang dihimpun, pada pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027.
Jumlah calon siswa yang mendaftar ke SDN PLTA Lamajan hingga awal Juni 2026 diperkirakan baru mencapai sekitar enam orang.
Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan tahun ajaran sebelumnya yang hanya mampu menerima sekitar 11 siswa baru.
Dari pantauan awak media di lokasi pada Kamis (04/06/2026), kondisi fisik bangunan sekolah terlihat sangat memprihatinkan. Beberapa bagian dinding mengalami retakan dan keropos, sementara sebagian besar atap tampak lapuk dan rusak akibat usia serta paparan cuaca ekstrem.
Kerusakan atap menjadi kekhawatiran utama, terutama menjelang musim hujan yang berpotensi menyebabkan kebocoran ke dalam ruang kelas.
Tak hanya itu, lantai di beberapa ruangan juga dalam kondisi tidak layak pakai. Sejumlah keramik telah terlepas, menyisakan permukaan tanah yang tidak rata dan bahkan berlubang di beberapa titik.
Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan proses belajar mengajar, namun juga berpotensi membahayakan keselamatan siswa dan tenaga pendidik yang beraktivitas di lingkungan sekolah setiap hari.
Warga setempat mengakui bahwa kondisi sarana dan prasarana yang buruk menjadi salah satu faktor utama mengapa orang tua enggan mendaftarkan anaknya ke sekolah ini.
"Kami sangat prihatin dengan kondisi sekolah. Fasilitas yang rusak membuat kita khawatir tentang keamanan anak-anak. Harapan kami, pemerintah bisa segera mengambil tindakan konkret untuk memperbaiki sekolah agar kembali layak digunakan," ujar salah seorang warga yang tidak ingin disebutkan namanya.
Perbandingan yang mencolok terlihat dengan sekolah negeri lain yang berada tidak jauh dari lokasi, yakni SDN Trikarya di wilayah Ciruntah, Kecamatan Pangalengan. Meskipun jarak antara kedua sekolah hanya sekitar satu kilometer, SDN Trikarya justru menjadi pilihan utama banyak orang tua.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, jumlah pendaftar di sekolah tersebut cukup tinggi hingga mampu membuka dua rombongan belajar (rombel) pada penerimaan siswa baru tahun ajaran ini.
Perbedaan jumlah pendaftar yang signifikan ini menjadi keprihatinan bersama masyarakat setempat.
Pemerintah Desa Tribaktimulya sebelumnya disebut telah melakukan berbagai upaya, mulai dari mengedukasi masyarakat hingga mendorong pemerataan peserta didik di wilayahnya.
Namun, hingga saat ini jumlah pendaftar di SDN PLTA Lamajan masih tergolong minim.
Para guru dan warga berharap Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung dapat segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi sekolah tersebut.
Mereka menilai bahwa perbaikan infrastruktur, peningkatan kualitas lingkungan belajar, hingga upaya strategis untuk pemerataan peserta didik menjadi langkah penting yang harus segera diambil untuk menjaga keberlangsungan sekolah.
"Jangan sampai sekolah negeri yang sudah puluhan tahun berdiri dan menjadi bagian penting dari sejarah pendidikan masyarakat Tribaktimulya ini perlahan kehilangan murid karena minimnya perhatian terhadap fasilitas pendidikan. Kami berharap ada langkah nyata agar SDN PLTA Lamajan kembali bangkit dan menjadi kebanggaan masyarakat," pungkas salah seorang warga dengan harapan yang mendalam.
Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat SDN PLTA Lamajan selama ini telah menjadi tonggak pendidikan dasar bagi generasi muda di wilayah tersebut.
Masyarakat berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, dapat segera turun tangan agar sekolah tersebut tidak semakin tertinggal dan tetap menjadi pilihan utama masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak mereka.
(Der/ Ayi Supriatna)

Komentar

