Pelayanan Hati di Balik Terali: Ibu Pendeta dan Dosen Tamani Warga Binaan Lapas Perempuan Tanjung Gusta.

Iklan Semua Halaman

.

Pelayanan Hati di Balik Terali: Ibu Pendeta dan Dosen Tamani Warga Binaan Lapas Perempuan Tanjung Gusta.

Staff Redaksi Media DPR Jambi
Selasa, 09 Juni 2026
Pelayanan Hati di Balik Terali: Ibu Pendeta dan Dosen Tamani Warga Binaan Lapas Perempuan Tanjung Gusta Medan 


MEDAN SUMUT | MEDIA-DPR.COM. Pelayanan kasih tak mengenal batas, bahkan sampai di balik terali besi. Hal itulah yang tergambar dalam kunjungan dan pendampingan yang dilakukan oleh Pendeta Rosiany Hutagalung beserta suaminya ke Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Tanjung Gusta Jalan Lembaga Pemasyarakatan No. 27, Medan Helvetia, Kota Medan Provinsi Sumatra Utara (Sumut, baru-baru ini.


Tanjung Gusta, ini juga memiliki kompleks Unit Pelaksana Teknis lain di area yang sama, yaitu Rutan Kelas I Medan dan Lapas Perempuan Kelas IIA Medan. 


Seperti disampaikan Sarma Hutajulu, S.H., yang turut mendampingi kegiatan tersebut, pasangan ini telah lama mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk melayani warga binaan di berbagai Rumah Tahanan maupun Lapas. 


Pelayanan yang mereka lakukan meliputi ibadah bersama hingga pendampingan konseling, semuanya dijalankan dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apapun.

 

“Saya secara pribadi sangat salut melihat dedikasi dan ketulusan keluarga ini dalam melayani sesama yang sedang membutuhkan,” ungkapnya.

 

Dalam rangkaian ibadah yang berlangsung, dilakukan sesi Doa Syafaat yang dipimpin oleh Elperida Sinurat. 


Banyak warga binaan yang menuliskan permohonan doa di atas kertas dan menyampaikannya. 



Sebagian besar dari mereka memohon dukungan doa untuk kelancaran proses hukum yang sedang dijalani, serta untuk keselamatan dan masa depan anak-anak yang harus mereka tinggalkan di rumah.

 

Dari permohonan yang disampaikan, tergambar betapa kompleksnya persoalan yang dihadapi perempuan yang sedang berhadapan dengan hukum. 


Kehilangan sosok ibu di tengah keluarga seringkali berdampak besar: banyak anak yang kemudian terjerumus dalam pergaulan bebas hingga kenakalan remaja karena kurangnya bimbingan dan kasih sayang.

 

Hal yang menyentuh perhatian, tidak ada satu pun dari mereka yang memohon doa untuk suami yang ada di rumah.“Kami tidak mengetahui pasti alasannya, namun satu hal yang jelas: meski berada dalam situasi yang berat sekalipun, hati para perempuan ini tetap lebih memikirkan nasib anak dan keluarga daripada dirinya sendiri,” ujar Sarma Hutajulu.

 

Di akhir tulisannya, ia mendoakan agar para warga binaan senantiasa diberikan kekuatan dan ketabahan menghadapi segala tantangan hidup. 


Sebagai bentuk kepedulian lebih lanjut, ia juga menyatakan kesiapannya untuk memberikan pendampingan dan nasihat hukum bagi mereka yang membutuhkan.

 

Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap kesalahan, masih ada hati yang berharap perubahan, serta keluarga yang menjadi alasan terkuat untuk berbenah dan melangkah maju.(Red).




close