TAPTENG | MEDIA-DPR.COM. Issue mengenai perjalanan kemenangan pasangan Bupati dan Wakil Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng) Provinsi Sumatra Utara (Sumut) periode 2024–2029 kembali mencuat dan menjadi sorotan publik secara luas.
Sebuah unggahan bernada tegas dan tajam yang dimuat di akun Facebook milik Charles Pardede pada Minggu (31/05/2026), langsung menyita perhatian dan menjadi berita utama yang viral di berbagai lini media sosial maupun media online.
Unggahan ini sengaja disampaikan Charles Pardede dengan satu tujuan utama: membangun kesadaran sepenuhnya kepada seluruh masyarakat Kabupaten Tapanuli Tengah, agar tidak melupakan sejarah dan fakta sebenarnya yang terjadi pasca pelaksanaan Pilkada Serentak tahun 2024 lalu.
Sebagaimana diketahui bersama, pada kontestasi demokrasi tingkat daerah tersebut, pertarungan kekuasaan memanas di antara dua pasangan calon utama yang saling berhadapan.
Di satu sisi terdapat pasangan calon dengan jargon populer "MAMA", yakni Masinton Pasaribu, S.H., M.H., berpasangan dengan H. Mahmud Efendy Lubis, S.E., yang saat itu menempati nomor urut 1.
Sementara itu, lawan politiknya adalah pasangan dengan jargon "KEDAN", yaitu Khairul Kiyedi Pasaribu yang berpasangan dengan Darwin Sitompul.
Pada akhirnya, hasil akhir pertarungan demokrasi tersebut dimenangkan oleh pasangan dengan jargon "MAMA". Kemenangan itu mengantarkan Masinton Pasaribu dan H. Mahmud Efendy Lubis resmi dilantik dan menjabat sebagai Bupati dan Wakil Bupati Tapanuli Tengah untuk masa bakti 2024 hingga 2029.
Namun di balik kemenangan yang diraih itu, Charles Pardede kini mengingatkan publik akan peran krusial yang menurutnya sering kali terlupakan atau tidak banyak dibicarakan.
Dalam unggahannya yang singkat namun menusuk dan penuh penekanan sejarah, Charles menuliskan kalimat yang langsung menjadi perbincangan hangat:
"Tidak usah banyak ceritalah, gambar yang bicara. Kalau saya tidak hadir, maka Tao Junjungan Sianipar tidak akan teken dan MAMA Gugur. Jangan lupa sejarah bro.!!!"
Kalimat tegas ini menyiratkan pesan mendalam mengenai momen krusial di masa lalu, di mana kehadiran dan peran yang dimainkan Charles Pardede dianggapnya sebagai penentu utama.
Ia menegaskan bahwa andilnya saat itu sangat besar, bahkan menentukan nasib pasangan "MAMA". Menurut versi sejarah yang disampaikannya, jika dirinya tidak hadir atau tidak berperan saat itu, maka sosok Tao Junjungan Sianipar tidak akan menandatangani sesuatu hal penting, dan konsekuensinya, pasangan "MAMA" dipastikan akan gugur dan tidak akan pernah menjadi pemimpin di Tapteng saat ini.
Pernyataan ini dimaksudkan Charles Pardede agar menjadi bahan renungan dan kesadaran bersama bagi seluruh elemen masyarakat, para pendukung, maupun pihak-pihak yang kini menikmati hasil kemenangan.
Ia mengingatkan agar jasa, peran, dan fakta sejarah tersebut tidak hilang begitu saja ditelan waktu, dan agar semua pihak mengerti duduk persoalan serta jalan panjang yang harus dilalui hingga pasangan terpilih bisa duduk di kursi kepemimpinan.
Unggahan ini pun kini menjadi pembicaraan publik yang mengingatkan kembali: di balik sebuah kemenangan besar, terdapat banyak peran dan peristiwa penting yang menjadi kunci, dan sejarah adalah catatan yang tidak boleh dihapus atau dilupakan begitu saja.
Ditulis oleh Demak MP Panjaitan/Pance

Komentar

