TAPUT | MEDIA-DPR.COM. Feisal Tanjung, lahir di Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) Provinsi Sumatra Utara (Sumut) pada 17 Juni 1939, merupakan sosok jenderal bintang empat yang tidak hanya meninggalkan jejak penting dalam sejarah militer dan pemerintahan Indonesia, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat Sumut, terutama generasi muda yang bercita-cita berkontribusi bagi bangsa.
Beliau tumbuh dalam keluarga dengan latar belakang pendidikan dan agama yang kuat; ayahnya, Amin Husin Abdul Mun’im Tanjung, adalah tokoh Muhammadiyah di Taput yang banyak berkontribusi dalam pembangunan pendidikan dan keagamaan di daerah.
Pengabdian profesionalnya dimulai setelah lulus dari Akademi Militer Nasional (AMN) pada tahun 1961.
Menariknya, menjadi perwira Angkatan Darat bukanlah cita-cita awalnya. Ia sempat dua kali mendaftar ke Akademi Angkatan Laut (AAL) namun terkendala usia, hingga akhirnya panggilan dari AMN datang dan mengubah jalan hidupnya.
Kisah ini menjadi contoh bahwa terkadang jalan yang tidak diharapkan justru membawa kita pada prestasi yang luar biasa, asalkan kita memiliki tekad dan kerja keras yang kuat.
Karier militer Feisal Tanjung banyak ditempa di satuan elit RPKAD (sekarang Kopassus) dan Brigade Infanteri Lintas Udara 17 Kostrad.
Salah satu prestasinya yang luar biasa adalah saat menjabat sebagai Komandan Tim Ekspedisi Lembah X di Irian Jaya pada tahun 1969, di mana ia memimpin kontak pertama dengan suku terasing di pedalaman Papua dengan penuh kepekaan dan profesionalisme.
Ketangguhan lapangannya membuatnya dipercaya memegang berbagai komando kewilayahan, termasuk menjadi Panglima pertama Kodam VI/Tanjungpura yang membawahi seluruh daratan Kalimantan setelah reorganisasi TNI pada tahun 1985.
Kepemimpinannya di tingkat nasional semakin diperhitungkan saat ditunjuk memimpin Dewan Kehormatan Militer (DKM) untuk mengusut tragedi Santa Cruz pada 1991.
Ketegasan dan integritasnya dalam menangani kasus sensitif ini membuat Presiden Soeharto memberikan kepercayaan sebagai Panglima ABRI (1993-1998).
Ia,, merupakan salah satu perwira yang meraih posisi tertinggi militer tanpa pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).
Setelah pensiun dari militer, ia melanjutkan pengabdian sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan di masa akhir Orde Baru hingga awal Reformasi, menunjukkan kemampuannya beradaptasi dengan dinamika perubahan bangsa.
Di tanah kelahirannya, Tarutung, nama Feisal Tanjung tetap dikenang dengan bangga dan menjadi bagian dari identitas daerah.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Taput telah menamai salah satu jalan utama di pusat kota Tarutung sebagai Jalan Jenderal Feisal Tanjung, yang menjadi akses penting menghubungkan berbagai fasilitas publik seperti rumah sakit, sekolah, dan kantor pemerintahan.
Selain itu, SMK Negeri 1 Tarutung juga telah menamai salah satu gedung utama sebagai Gedung Feisal Tanjung, yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran dan pelatihan kepemimpinan siswa.
Setiap tahun pada bulan Juni menjelang hari lahirnya, pihak sekolah dan pemerintah daerah menyelenggarakan "Pekan Inspirasi Kepemimpinan Feisal Tanjung", yang menghadirkan pembicara dari kalangan militer, pemerintahan, dan masyarakat untuk berbagi ilmu dengan pemuda Tarutung.
Bahkan hingga tahun 2026, beberapa organisasi pemuda seperti Forum Pemuda Tapanuli Utara dan Komunitas Inspirasi Kepemimpinan Sumut selalu menyertakan studi kasus tentang perjalanan karirnya dalam kegiatan pelatihan mereka.
Kegiatan ini mengingatkan bahwa prestasi besar bisa dimulai dari daerah kecil dengan kerja keras dan dedikasi yang tinggi.
Jenderal Feisal Tanjung wafat pada 18 Februari 2013 di Jakarta dan dimakamkan di TMP Kalibata. Beliau meninggalkan warisan profesionalisme militer, ketaatan beragama, dan dedikasi yang tak pernah pudar, dikenang sebagai pemimpin yang mampu menyeimbangkan tugas tempur, teritorial, dan birokrasi pemerintahan di masa sulit bangsa.
Bagi masyarakat Sumut khususnya dan Indonesia pada umumnya, sosoknya menjadi bukti bahwa anak daerah bisa mencapai prestasi tertinggi di negeri ini, selama tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, integritas, dan cinta tanah air.(*)
(Penulis Demak MP Panjaitan Pance Wartawan MEDIA-DPR-COM Sumber: Wikipedia - "Feisal Tanjung" dan data dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Taput)

Komentar

